KASIH ADALAH KEGENAPAN HUKUM TAURAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus – Rabu, 4 November 2015)

Franciscan Missionaries of Mary (FMM): Peringatan wafat B. Marie de la Passion, Ibu Pendiri Tarekat 

SANTO PAULUS MEMANG HEBATJanganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab siapa saja yang mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena perintah: “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini,” dan perintah lainnya, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. (Rm 13:8-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9; Bacaan Injil: Luk 14:25-33 

“…… hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab siapa saja yang mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat” (Rm 13:8).

Yesus membawa pembenaran dan keselamatan kepada semua orang-orang yang percaya. Dia mengajar bahwa mengasihi orang-orang lain itu berarti memenuhi hukum Taurat. Yesus menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah walaupun tindakan kebaikan-Nya itu melanggar hukum Sabat karena Dia tahu bahwa lebih baik bagi-Nya untuk melakukan kebaikan daripada tidak samasekali (lihat Mrk 3:1-5). Salah seorang ahli Taurat meringkas ajaran Yesus: “Mengasihi Dia (Allah) dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:33). Paulus menggemakan ajaran Yesus ini: “Karena perintah jangan berzina, ……, dan perintah lainnya, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!’” (Rm 13:9).

Kita harus mengetahui bahwa jemaat di Roma terdiri dari mayoritas orang-orang non-Yahudi dan minoritas yang terdiri dari orang-orang Kristiani ex-Yahudi. Paulus ingin agar jemaat di Roma ini memahami bahwa Allah telah memanggil semua orang untuk menjadi anak-anak-Nya. Allah menginginkan agar setiap orang ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal – tidak hanya mereka yang berada dalam komunitas iman. Begitu jemaat di Roma memahami bahwa semua orang dikasihi oleh Allah dan dipanggil menjadi anak-anak-Nya, maka harapan Paulus adalah bahwa mereka meninggalkan perbedaan-perbedaan yang ada, lalu saling mengasihi di antara mereka.

Kristus adalah “tujuan akhir hukum Taurat” (Rm 10:4). Kematian-Nya pada kayu salib merupakan puncak dari tindakan kasih-Nya kepada kita, tindakan mana membentuk suatu norma baru bagi hidup Kristiani, memampukan kita untuk dibebaskan dari ikatan-ikatan konvensi, nasionalitas, ethnisitas, ras, dan mencari secara lebih aktif kebaikan bagi orang-orang lain. Apabila kita sungguh menerima kasih Kristus, maka kita dipersatukan dengan Dia dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kita pun diberdayakan melalui kasih itu sehingga mau dan mampu memberikan nyawa kita demi orang-orang lain, seperti Yesus Kristus sendi!ri lakukan untuk kita (lihat Yoh 15:13).

Orang-orang yang hidup terisolasi seperti mereka yang hidup di negara-negara maju atau kota-kota besar di negara kita dapat saja berpikir bahwa panggilan Allah untuk mengasihi sesama ini sebagai suatu tugas yang tidak mungkin. Memang secara manusiawi hal itu tidak mungkin, namun Allah telah membuatnya menjadi mungkin dengan mengaruniakan kepada kita Roh Kudus-Nya, melalui Dia “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita” (Rm 5:5). Roh Kudus ini memampukan kita untuk mengenakan Tuhan Yesus Kristus (Rm13:14) dan untuk mengasihi seperti Yesus mengasihi.

Baiklah sekarang kita mendengar dan menanggapi ajakan Santo Paulus: “Semoga Allah, sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu semua, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 15:5-6).

DOA: Bapa surgawi, aku menyembah dan memuji Engkau. Tidak ada sesuatu pun yang lebih memiliki kuat-kuasa dan lebih menakjubkan daripada kasih-Mu, karena Engkau adalah kasih! Melalui Roh Kudus-Mu, datanglah dan penuhilah diriku dengan kasih-Mu pada hari ini, sehingga aku dapat menjadi murid Kristus yang lebih baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI DAN MEMBENCI” (bacaan tanggal 4-11-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wodpress.com; kategori: 15-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-11-13) 

Cilandak,  3 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS