SUATU BAPTISAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 22 Oktober 2015)

Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus 

stdas0730“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Rm 6:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini sungguh keras. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49). Yesus berkata bahwa Dia datang untuk membakar kita, agar kita masuk ke dalam hidup bagi Allah; bahwa kita itu seperti api, seperti suatu nyala api yang hampir habis. Iman kita masih menyala namun sangat kecil. Kita secara tetap disibukkan dengan hal-ikhwal dunia ini, dan kita mempunyai sedikit waktu saja untuk menyiram “bensin” ke dalam nyala api kecil dari iman dalam diri kita.

Yesus seakan berkata, “Jangan salah. Aku tidak datang sekadar untuk memasukkan kamu ke dalam surga, untuk membuat dirimu menjadi ‘Orang Kristiani Hari Minggu’. Aku datang untuk membakar kamu dengan kasih Kristiani, untuk menjadi orang yang penuh hasrat untuk menjadi saksi-saksi-Ku lewat kesaksian hidupmu; juga untuk mati terhadap dirimu sendiri sehingga orang-orang lain dapat hidup. Mengapa kamu tidak membiarkan dirimu dibakar? Inilah hasrat-Ku terhadap dirimu.”

Api ini akan memurnikan kita, jika kita memperkenankannya. Hal itu akan membuat diri kita menjadi murid-murid Kristus sejati, yang siap untuk pergi bersama-Nya ke mana saja Dia memimpin kita. Yesus juga berkata: “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hatiku, sebelum hal itu terlaksana!” (Luk 12:50). Tentu saja di sini Yesus berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya. Salib-Nya! Hanya melalui penderitaan sengsara dan wafat-Nyalah kita dapat sampai kepada sukacita kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Kita pun harus dibaptis dalam Kristus yang tersalib, dalam penderitaan sengsara-Nya. Kita harus mati terhadap diri kita dan bangkit dengan Kristus Yesus. Kita harus menyangkal diri kita dan hidup untuk orang-orang lain. Dan … kita akan terus bersusah hati, … sampai kita tiba di sana.

Banyak orang ingin disembuhkan; mereka ingin bebas dari rantai dalam diri mereka yang erat-erat mengikat mereka: rasa takut, rasa susah, kemarahan, rasa cemas, beberapa di antaranya malah menyebabkan sakit badani (fisik). Akan tetapi mereka tidak mau melalui proses kematian terhadap diri sendiri, yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Dengan demikian mereka merasa susah-hati, sampai mereka benar-benar mau melalui proses pembaptisan itu, Selama kepentingan-diri kita memegang kendali atas hidup kita, maka kita akan terus merasa susah-hati, terus berada dalam kesusahan. Namun apabila kita telah mati terhadap diri kita sendiri, maka perkenankanlah Yesus untuk memegang kendali, maka susah-hati kita akan lenyap dan kita pun akan mengalami sukacita penuh kasih, sukacita karena hidup bagi Allah, dan bagi orang-orang lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, api ini, susah-hati ini, baptisan ini, pemurnian ini tidaklah harus membentuk damai yang bersifat duniawi. Hal itu bahkan dapat memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Kesetiaan kepada Kristus akan berarti bahwa kita harus menempatkan kesetiaan-kesetiaan lainnya dalam kehidupan kita menjadi nomor dua. Apabila keputusan kita itu menciptakan pemisahan, biarlah begitu. Yesus harus senantiasa menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita jika kita sungguh ingin memiliki damai-sejahtera yang tahan banting. Lebih baik mengalami suatu damai-sejahtera yang sejati disertai perpecahan-perpecahan daripada suatu damai sejahtera palsu, yang tidak memberikan tempat yang pertama dan utama kepada Kristus dalam hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin berjalan melalui baptisan dalam salib bersama Engkau. Aku ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI” (bacaan tanggal 22-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-10-14 dalam situs SANG SABDA) 

Cilandak, 19 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS