ABRAHAM DIBENARKAN MELALUI IMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII, Jumat 14-10-11) 

585500735_fb087c9f1e_zJadi, apa yang akan kita katakan tentang Abraham, bapak leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan berdasarkan perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apa yang dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan sebagai kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah orang yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Rm 4:1-8)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11; Bacaan Injil: Luk 12:1-7 

Selagi dia menjelaskan karunia keselamatan dalam Kristus yang dianugerahkan secara bebas, Santo Paulus menunjukkan kepada para pembaca suratnya suatu acuan kepada seorang “pahlawan-iman”: Abraham yang percaya kepada Allah, sehingga “Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Rm 4:3; bdk. Kej 15:6).

Dalam artian ini yang dimaksudkan dengan “kebenaran” adalah keadaan seseorang yang dibebaskan dari dosa dan dibuat benar dalam pikiran dan hatinya. Abraham menerima “kebenaran” ini karena dia menaruh kepercayaan pada janji Allah kepadanya dan berupaya untuk bertindak sesuai dengan kepercayaannya itu. Melihat iman sedemikian, Allah menarik Abraham untuk berada dekat dengan hati-Nya dan menamakan dia sahabat-Nya.

Seorang pribadi yang “benar” bertindak seturut kehendak Allah. Namun justru di sinilah kita dapat menjadi bingung. Kita tidak menjadi “benar” karena tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan kita. Tindakan-tindakan kita yang “benar” mengalir dari perubahan yang terjadi dalam diri kita, ketika kita merangkul Yesus. Setelah itu, hal-hal baik yang kita lakukan mencerminkan kebaikan yang dibawa Allah ke dalam hati kita masing-masing.

Apabila kita terus-menerus mencari Yesus dan Bapa-Nya, maka kita akan melihat dengan lebih jelas lagi, baik kebutuhan kita akan Allah dan kasih tanpa batas diri-Nya bagi kita semua. Kita akan berhenti mencoba bekerja keras dengan kekuatan kita sendiri guna memperoleh imbalan berupa kasih-Nya, sebaliknya kita akan datang untuk duduk bersimpuh dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya karena kita dijamin oleh pengetahuan bahwa Dia telah berkemenangan atas dosa-dosa kita.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Ketika Roh Kudus menolong kita mengenali dosa-dosa kita atau kelemahan-kelemahan kita, kita dapat berbalik kepada Allah dengan hati yang bertobat dan menerima pengampunan yang telah dibuat-Nya tersedia melalui kematian Putera-Nya pada kayu salib di Kalvari. Suatu berkat sedemikian akan membawa kita menjadi sangat dekat dengan hati Bapa surgawi yang penuh kasih, dan mencairkan perlawanan kita terhadap panggilan-Nya untuk mengasihi dan mengampuni orang-orang dalam kehidupan kita yang berbuat salah kepada kita.

Dengan latar belakang peristiwa Lazarus yang dibangkitkan dari kematian, Yesus mengajarkan kepada Marta: “Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah” (Yoh 11:40). Abraham percaya, dan dia menyaksikan sendiri janji Allah diwujudkan dalam kelahiran anak laki-lakinya, Ishak. Kepercayaan kita sendiri akan Allah – dalam Yesus Kristus – akan menggiring kita kepada perwujudan janji-janji Allah perihal damai-sejahtera dalam kehidupan ini dan persatuan dengan Diri-Nya dalam keabadian. Oleh karena itu marilah kita senantiasa membuat Yesus Kristus sebagai batu penjuru kehidupan kita!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk karunia kebenaran-Mu. Engkau menawarkan kepada kami kebebasan dan kedekatan dengan-Mu, sama seperti Engkau menawarkannya kepada Abraham, Bapak-iman kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya kepada-Mu dalam segala keadaan, seperti yang ditunjukkan oleh Abraham. Tolonglah kami juga untuk senantiasa memusatkan pandangan kami pada kasih-Mu yang agung. Terima kasih, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “MEMAKAI TOPENG” (bacaan untuk tanggal 16-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 14 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS