SEBAB ALLAH TIDAK MEMANDANG BULU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 14 Oktober 2015) 

St Paul Icon 4000Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dengan menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, apakah engkau sangka bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak bertobat, engkau menimbulkan murka atas dirimu sendiri pada hari murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan kegeraman kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesengsaraan akan menimpa setiap orang yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. (Rm 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-7,9; Bacaan Injil: Luk 11:42-46 

Kontras dengan surat-suratnya yang lain, dalam suratnya kepada jemaat di Roma ini Paulus tidak mencoba untuk mengoreksi suatu bid’ah atau menolong memecahkan masalah karena skandal yang terjadi. Di sini Paulus mempunyai sesuatu yang lain dalam pikirannya: memperkenanlkan dirinya dan ajarannya kepada jemaat di Roma guna mempersiapkan mereka untuk kunjungan yang ingin dibuatnya ke sana.

Secara pribadi Paulus sendiri belum sepenuhnya akrab dengan gereja di Roma ini, namun ia telah memperoleh informasi yang cukup untuk mengetahui apa yang harus dikatakannya. Misalnya, Paulus memahami bahwa para anggota jemaat Roma yang terdiri dari orang-orang Yahudi sangat kecil jumlahnya apabila dibandingkan dengan anggota jemaat yang bukan Yahudi, dan yang disebutkan belakangan ini barangkali merasa terancam dan diabaikan. Karena ketegangan antara dua kelompok ini merupakan suatu kemungkinan, maka Paulus menekannya pada awal-awal suratnya bahwa sabdaa Allah ditujukan dan berlaku untuk setiap orang. Tidak seorang pun yang melakukan kejahatan – baik Yahudi maupun non-Yahudi – akan luput dari penghakiman Allah. Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang melakukan kebaikan – baik Yahudi maupun non-Yahudi – yang tidak akan memperoleh kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera. Sebab Allah tidak memandang bulu” (Rm 2:10-11).

Seperti jemaat Kristiani di Roma, kita dapat merasa tenang-nyaman karena mengetahui bahwa Allah tidak mengenal favoritisme. Kita masing-masing membutuhkan belas kasih Allah. Belas kasih itu ditawarkan kepada kita masing-masing oleh “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita, yang “kaya dengan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya” (Rm 2:4).  Allah berkomitmen secara tidak berat sebelah kepada semua anak-anak-Nya, dan Ia memegang teguh pengharapan dan janji akan keselamatan bagi kita semua.

Disamping membawa pengharapan kepada kita sendiri, pengetahuan bahwa kasih Allah itu tidak pilih-pilih dan murah-hati seharusnya mendorong kita untuk mengubah pemikiran kita tentang orang-orang lain. Adakah orang-orang yang telah kita “hapus” sebagai orang-orang yang tidak mungkin lagi bertobat? Kita harus ingat, bahwa Allah belum menghapus orang-orang itu dari daftar anak-anak-Nya. Allah memanggil mereka juga, betapa pun berdosanya mereka itu kelihatannya. Allah senantiasa siap mencurahkan rahmat-Nya, jika orang-orang itu menanggapi panggilan-Nya. Rahmat-Nya itu dicurahkan-Nya dengan berlimpah-limpah, sehingga kekudusan orang-orang itu akan membuat kita takjub kelak!

Yesus mempunyai pengharapan untuk setiap orang, dan Ia ingin menaruh pengharapan yang sama ke dalam hati kita masing-masing. Yesus ingin agar kita menolak kecemasan apa pun yang ada dalam diri kita tentang kondisi spiritual seseorang. Namun Ia ingin agar kita juga membuang rasa superioritas kita tentang kondisi spiritual kita sendiri. Yesus ingin kita semua berdoa dengan penuh keyakinan akan kemampuan Allah untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah sekarang kita (anda dan saya) memohon kepada Yesus agar menolong memampukan kita memandang semua saudari dan saudara kita seperti Dia memandang mereka. Baiklah kita mengetahui bahwa setiap orang dapat menjadi seorang kudus, santa ataupun santo!

DOA: Tuhan Yesus, sentuhlah setiap orang dengan Injil-Mu! Perkenankanlah diriku menyaksikan bagaimana Engkau dapat bekerja, bahkan dengan cara-cara yang jauh melampaui ekspektasi-ekspektasiku sendiri. Putar-balikkanlah situasi-situasi yang paling mendekati keputusasaan dengan rahmat dan belas kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:42-46), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU MENGABAIKAN KEADILAN DAN KASIH TERHADAP ALLAH” (bacaan tanggal 14-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015.

Cilandak,  12 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements