AKU TIDAK MALU TERHADAP INJIL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 13 Oktober 2015)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan 

apostole_paul_Hand_Made_Icons__zoomSebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Sebab murka Allah dinyatakan dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah nyata bagi mereka, sebab Allah  telah menyatakannya kepada mereka. Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-oleh mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang melata.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah  makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya. Amin. (Rm 1:16-25)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Luk 11:37-41 

“Aku tidak malu terhadap Injil”, demikianlah tulis Paulus (Rm 1:16). Kebanyakan dari kita tidak malu, bahkan bangga untuk iman-kepercayaan Kristiani yang Katolik, yang hayati. Kita tidak akan mengatakan kita malu memiliki Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita dan juga tidak malu untuk menjadi saksi-saksi Injil. Kita pergi ke gereja secara teratur, kita mencoba untuk berdoa setiap hari, kita memberi sedekah dengan murah hati, dan kita mencoba menjadi orang baik-baik.

Namun demikian, apakah kita (anda dan saya) pernah merasa tertekan untuk berpartisipasi dalam sesuatu hal atau bertindak dengan cara yang memkompromikan iman kita? Misalnya, sebagai seorang manajer akuntansi anda diminta untuk memberi paraf persetujuan atas ayat-ayat pembukuan yang merupakan hasil proses creative accounting yang kita tahu tidak menunjukkan kebenaran dan dibenarkan menurut prinsip-prinsip akuntansi yang ada. Atau, seorang rekan kerja di kantor mulai melibatkan kita dalam lelucon-lelucon yang “ngawur”, atau seorang tetangga menelepon kita dan mulai bergosip-ria tentang keluarga tetangga lain, dst. dlsb. Dalam semua hal ini, apakah yang kita lakukan atau harus lakukan? Dalam momen-momen seperti ini, di mana Roh Kudus “mengganggu” hati nurani kita, sangat mengejutkanlah melihat betapa cepat kita dapat menjadi ragu-ragu atau malu untuk berbicara berdasarkan kebenaran.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Lihatlah betapa kuatnya godaan untuk memkompromikan iman kita! Lagipula kita kan semua anggota masyarakat yang tidak mau dicap sebagai orang beragama yang fanatik atau seorang pembunuh suasasa gembira? Kadang-kadang diperlukan “nyali yang besar” untuk berdiri di depan anak-anak kita dan mengatakan kepada mereka bahwa jenis pakaian yang mereka kenakan, atau cara mereka berelasi dengan teman-teman mereka yang berlainan jenis tidak pantas dilihat. Kita tidak boleh dikuasai oleh “relativisme” yang sudah sedemikian biasa terlihat dalam kehidupan keluarga sehingga kelihatan tak normallah apabila kita berpendirian tegas dengan para anggota keluarga kita dalam hal-hal yang menyangkut moralitas, seksualitas dan pengaruh media.

Jadi, apa kabar baiknya dari semua ini? Kita memiliki Roh Kudus, dan Ia ingin menjadi “terang yang membimbing” dan juga menjadi “kompas di bidang moral” bagi kita semua. Salah satu peran Roh Kudus adalah untuk mengingatkan pada saat kita – atau seseorang yang kita kasihi – berada dalam suatu situasi di mana ada bahaya untuk mengkompromikan iman-kepercayaan kita. Roh Kudus juga memberanikan diri kita/membesarkan hati kita dan memberdayakan kita untuk berdiri tegak demi iman kita dalam momen-momen yang sulit.

Saudari-Saudara yang terkasihi, selagi kita menjalani hidup pada hari ini, baiklah kita (anda dan saya) mendengarkan lonceng-lonceng alarm dari Roh Kudus dan menyaksikan Dia bekerja dalam kuat-kuasa guna menolong kita berbangga berdiri tegak demi iman-kepercayaan kita kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Yesus, sebagai seorang murid-Mu, aku tidak malu untuk mewartakan kabar baik bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Aku tidak malu dikenal sebagai seorang pengikut Engkau dan Injil-Mu. Kuatkanlah diriku agar mampu berdiri tegak demi Engkau dalam dunia ini sehingga melalui kesaksianku, orang-orang lainpun dapat juga merasa terdorong untuk berdiri tegak demi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 13-10-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

Cilandak, 11 Oktober 2015 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS