ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 3 Oktober 2015) 

YESUS - SANG GURU

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:33-37

Tidak meragukan lagi bahwa Yesus bergembira bersama para murid-Nya ketika mereka pulang dari perjalanan misi mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Biar bagaimana pun juga para murid-Nya ini adalah orang-orang sederhana dengan latar belakang bervariasi yang baru saja berhasil membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, mengusir roh-roh jahat yang menakutkan, dan tentunya berbagai tanda heran lainnya. Namun, seperti anak-anak yang energinya harus disalurkan ke arah yang benar, maka para murid-Nya juga harus menyadari di mana sebenarnya letak sumber sukacita mereka. Yesus dengan jelas mengatakan kepada para murid-Nya bahwa kuat-kuasa apa pun yang berhasil mereka peragakan sehingga mengalahkan roh-roh jahat, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan kenyataan bahwa nama-nama mereka terdaftar di surga.

Namun tidak cukuplah bagi Yesus untuk memberi koreksi atas ungkapan sukacita para murid-Nya. Yesus juga terus menunjukkan kepada mereka jenis sukacita yang harus mencirikan para pengikut-Nya: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk 10:21).

Marilah kita membayangkan bagaimana Putera Allah bersukacita dalam Roh Kudus pada saat itu. Tidak salahlah bagi kita untuk membayangkan juga Tritunggal Mahakudus yang penuh kegembiraan menari dan merayakan bersama setiap kali mereka melihat anak-anak kecil seperti kita membuka hati terhadap perwahyuan dari surga. Pengalaman akan surga yang terbuka – pengalaman akan perwahyuan/pernyataan diri Allah dalam hati kitalah – yang sesungguhnya menggerakkan hati kita untuk memuji dan bersukacita. Pada kenyataannya, karena mengetahui bahwa Allah menaruh diri kita di telapak tangan-Nya dapat memimpin kita kepada suatu hidup sukacita yang bersifat menyeluruh. Hal sedemikian dapat menggerakkan kita untuk bersukacita melihat keindahan bintang-bintang yang bertaburan di malam hari, atau relasi dengan orang-orang yang sangat kita kasihi, seperti juga kita bersukacita karena mengetahui bahwa nama-nama kita terdaftar di surga.

Santo Fransiskus dari Assisi, yang pestanya kita rayakan pada hari ini, adalah seorang pribadi yang menyadari betapa terberkati dirinya karena telah disentuh oleh Allah. Dalam “Gita Sang Surya” (Kidung/Nyanyian Saudara Matahari), Fransiskus menyanyikan dengan penuh sukacita caranya dia menemukan kasih Allah dan keindahan-Nya dalam segenap ciptaan. Tidak ada sesuatu pun, bahkan tidak juga penolakan oleh keluarganya (kecuali ibundanya yang tidak menolaknya), atau hidup pertobatan yang keras bersama para saudaranya, atau hidup miskin seturut panggilan-Nya, berhasil mengalahkan dan merenggut sukacita sejati yang ada dalam dirinya. Marilah kita belajar dari Fransiskus bagaimana menyerahkan diri kita sepenuhnya (artinya tanpa reserve) kepada Yesus. Semoga dengan begitu, hidup kita menjadi sebuah madah pujian dan syukur kepada Dia yang begitu mengasihi kita semua!

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah diriku agar dapat merayakan dengan penuh sukacita kasih yang Kaucurahkan kepadaku. Semoga aku dapat menjalani hidupku dengan selalu memuji-muji kehadiran-Mu dalam diriku dan dalam diri orang-orang di sekelilingku. Bimbinglah aku senantiasa sehingga aku pantas dinamakan seorang anak Bapa di surga dan murid Yesus Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI” (bacaan tanggal 3-10-15) dalam situs SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-10-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 30 September 2015 [Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS