PESTA SALIB SUCI (8)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Senin, 14 September 2015) 

Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

chua-giesu-va-ong-nicodemo1Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang  yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. (Yoh 3:13-17) 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Kedua: Flp 2:6-11

Pada hari ini Gereja merayakan “Pesta Salib Suci”, hari kemenangan Salib Kristus. Feast of the Triumph of the Cross dalam bahasa Inggris. Hari ini adalah hari pada saat mana kita hendaknya menoleh jauh ke belakang dan melihat apa yang telah dilakukan serta dialami oleh Yesus di Kalvari. Sebuah peristiwa yang sangat sulit disimak oleh intelek manusia,  apabila dirinya belum dicerahkan oleh Roh Kudus. Lewat peristiwa kematian di kayu salib itu, kita – para murid-Nya – pun, ditinggikan dalam Dia dan mampu melihat transendensi mutlak kemenangan-Nya yang sangat mengagumkan. Pada Pesta Salib Suci ini, marilah kita bersukacita atas karya salib Kristus dan dengan penuh keyakinan masuk ke dalamnya. Salib Kristus masih memiliki kuat-kuasa bagi kita pada hari ini, dan Allah memaksudkan salib itu agar membawa hidup dan pertolongan bagi kita.

Bacaan Injil hari ini adalah sebagian kecil dari percakapan Yesus dengan Nikodemus yang terjadi pada waktu malam. Injil Yohanes, seperti setiap hal dalam Perjanjian Baru, ditulis dalam terang Kebangkitan Yesus Kristus. Dengan demikian, setiap hal yang dikatakan tentang Yesus dan yang dikatakan oleh-Nya haruslah dipahami dalam terang Paskah itu.

Untuk membuat acuan kepada peninggian Yesus  menjadi lebih jelas, Yohanes menunjuk kepada suatu lambang standar dari keselamatan, yaitu “ular tembaga” yang harus ditinggikan ketika bangsa Israel masih berkelana di padang gurun selagi menuju tanah terjanji, dan diserang oleh ular-ular tedung seperti digambarkan dalam Kitab Bilangan: “Maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseoran dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup” (Bil 21:8-9).

church-size-san-damiano-cross-image-on-canvas-with-ornate-gold-frame22859xl“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:14-15). Sebagaimana kita ketahui, peninggian Anak Manusia mengacu pada penyaliban Yesus, yang dalam Injil Yohanes merupakan bagian integral dari keseluruhan peristiwa peninggian-pemuliaan Yesus Kristus. Peristiwa ini merangkul salib-Nya tidak kurang dari kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga dan juga Pentakosta (lihat Yoh 8:28; 12:32).

Tujuan dari  gerakan turun-naik Anak Manusia (lihat Yoh 3:13) adalah “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:15). Jadi tujuan yang dimaksudkan dari “Firman yang telah menjadi manusia” (Yoh 1:14), tujuan dari segala hal yang meyangkut kehidupan, kematian, kebangkitan dan peninggian Yesus dari Nazaret adalah untuk memberikan “hidup kekal” kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Oleh karena itu, pertanyaan Yesus kepada dua orang calon murid-Nya yang pertama, “Apa yang kamu cari?”  (Yoh 1:38) seharusnya mempunyai “hidup kekal” sebagai jawaban akhirnya. Siapa pun yang mencari Yesus, siapa pun yang datang kepada-Nya, seharusnya  hanya mempunyai “hidup kekal” sebagai yang dicita-citakan olehnya. Ayat sesudah itu yang begitu terkenal (Yoh 3:16) dan ayat-ayat selanjutnya menjelaskan  apa makna dari “hidup yang kekal” itu.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami memuliakan Engkau secara sangat istimewa. Kami melihat Salib-Mu bukan hanya sebagai suatu tanda kematian, tetapi juga sebagai suatu tanda kematian yang ditransformasikan menjadi kehidupan kekal di sebelah kanan Bapa surgawi. Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Salib-Mu merupakan tanda paling agung dari cintakasih-Mu kepada umat manusia. Semoga Roh Kudus-Mu menjaga kami agar senantiasa dapat mengikuti jejak-Mu sebagai murid-murid-Mu yang baik. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB KRISTUS YANG BERKEMENANGAN” (bacaan tanggal 14-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 10 September 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements