SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 10 September 2015) 

stdas0730“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya, Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajar kita: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:35-36).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS YANG PALING KERAS DAN SULIT” (bacaan tanggal 10-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS