BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 9 September 2015)

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETLalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13

“Khotbah di Tanah Datar” yang ada dalam Injil Lukas dan padanannya dalam Injil Matius yang diberi nama “Khotbah di Bukit”, memuat  sejumlah “kata-kata mutiara” (boleh dikatakan yang terbaik) dari Yesus. Masalahnya sekarang adalah, bahwa familiaritas kita dengan “Sabda-sabda Bahagia” dapat menghalangi kita dari pemahaman menyeluruh atas ajaran Yesus yang bersifat revolusioner itu. Bagaimana Yesus dapat mengatakan bahwa orang-orang miskin itu terberkati (bahagia) dan orang-orang kaya itu celaka atau terkutuk?

Yesus mengatakan bahwa mereka yang kaya itu terberkati bukanlah karena kemiskinan itu baik, melainkan karena orang-orang miskin lebih berkemungkinan untuk dengan rasa haus dan lapar akan Allah yang berada dalam setiap hati manusia. Karena mudahnya menjadi berhala, kekayaan materiil dapat “menguasai” hati kita dan menjauhkan kita dari kerendahan hati dalam menghadap Allah guna menerima rahmat-Nya ( 1Tim 6:10).

Itulah sebabnya mengapa Yesus bersabda, “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk 6:24). Yesus tidak mengutuk orang-orang kaya, Dia hanya berduka terhadap kemiskinan spiritual dari mereka yang puas dengan kekayaan duniawi. Yesus mengetahuki bahwa apabila kita mengeluarkan energy kita secara terpusat guna memperoleh kekayaan duniawi dengan cara yang mengesampingkan Allah dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, maka kita dapat merasa nyaman dalam hidup ini, tetapi dengan risiko terlempar dari kekayaan kehidupan kekal bersama Yesus.

Yesus mengundang kita semua untuk merangkul orang-orang miskin, guna membuka mata kita terhadap penderitaan di sekeliling kita, dan untuk memiliki kerinduan agar dunia dibebaskan dari dosa (Mat 6:9-10). Kerinduan kita menjadi kasih pada saat kita digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan kita dan mulai bekerja untuk membawa terang Kristus ke dalam kegelapan di sekeliling kita. Kalau tadinya kita mengejar-ngejar kekayaan dan kenyamanan hidup dengan praktis melupakan hampir segala-galanya yang lain, maka sekarang kita menjadi rela dan ikhlas untuk mengambil jalan lebih sulit yang dapat mencakup penderitaan. Mengapa? Karena kita adalah milik Kristus! 

Kebahagiaan sejati tidak datang dari hidup senyaman mungkin dalam dunia ini, melainkan dari kenyataan bahwa kita sekarang menerima semacam down payment dari kekayaan penuh yang menantikan kita di surge sana – hidup yang dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus. Walaupun terkadang kita hanya dapat melihat sekilas saja, jika dengan penuh ketekunan kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, maka Dia akan menguatkan kasih kita kepada-Nya dan bagi orang-orang  lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci dan lapar. Tolonglah diriku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MENJADI MISKIN DALAM ROH” (bacaan tanggal 9-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS