YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu,  5 September 2015) 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Pada waktu Lukas menulis Injilnya, umat Kristiani sedang menyebar ke tempat-tempat atau negeri-negeri yang jauh dari Yerusalem. Banyak anggota jemaat yang baru berasal dari kaum non-Yahudi (baca: Kafir) yang tidak familiar dengan berbagai adat-kebiasaan Yahudi. Salah satu tujuan Lukas menulis Injilnya ini adalah untuk mengajar umat Kristiani ex non-Yahudi itu bahwa mereka termasuk dalam rencana Allah untuk membawa semua orang kepada keselamatan dalam Kristus. Lukas berupaya untuk mematahkan halangan-halangan dari peraturan-peraturan Yahudi dan memproklamasikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan segenap umat manusia.

Lukas menunjukkan bagaimana Yesus secara gradual – tahap demi tahap – mengungkapakan kebenaran siapa Dia sebenarnya, … Juruselamat dunia. Kemudian Dia mengembangkan lebih lanjut tema, bahwa agar dapat mengikut Kristus kita perlu menolak dan membuang cara-cara berpikir kita yang lama dan menjalankan suatu cara hidup baru yang bersifat radikal. Selagi jalan di jalan antara ladang-ladang gandum, para murid Yesus memetik bulir gandum, menggosok-gosoknya untuk membuang sekamnya, kemudian memakannya. Bagi orang Farisi, tindakan para murid Yesus ini melanggar hukum Sabat Yahudi (lihat Ul 5:14) yang melarang orang untuk bekerja pada hari Sabat. Secara teknis, para murid Yesus telah melakukan suatu pekerjaan (memetik bulir gandum dst.) yang terlarang di hari Sabat.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengingatkan mereka pada waktu di mana Daud memberi makan pasukannya yang lapar dengan roti kudus, yaitu roti sajian yang ditempatkan dalam tabernakel (Luk 6:3-4; 1Sam 21:1-6).  Menurut hukum yang berlaku roti seperti ini hanya dapat dimakan oleh para imam dari Rumah Allah (Im 24:9), akan tetapi diberikan kepada Daud dan pasukannya atas dasar pertimbangan unsur kemanusiaan. Lalu Yesus bersabda, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus mengungkapkan dua buah kebenaran yang penting dalam pernyataannya ini. Yesus menunjukkan bahwa Dia dan para murid-Nya tidak melanggar hukum Sabat. Sebaliknya, sebagai “Tuhan atas hari Sabat”, Dia sedang mengungkap makna sesungguhnya dari hari Sabat itu. Pertama-tama, hari Sabat ditetapkan sebagai karunia Allah bagi umat manusia, satu hari yang disisihkan bagi orang-orang  agar mereka memalingkan hati dan pikiran mereka kepada Allah. Kedua, Dia menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya – Anak Manusia dengan otoritas, bahkan atas hari Sabat juga.

Sekarang marilah kita memusatkan pikiran dan hati kita kepada Anak Manusia, Yesus Kristus, agar Dia sudi mengajar kita dan kita pun dapat semakin mengenal-Nya. Bagaimana? (1) Dengan menyediakan waktu yang cukup setiap hari – paling sedikit 10 menit – untuk berdoa dan memuji-muji Allah sambil membuka hati kita selebar-lebarnya bagi-Nya. (2) Dengan melakukan pemeriksaan batin/nurani kita setiap hari, biasanya sebelum kita pergi tidur di malam hari. Pada kesempatan ini kita dapat bertobat atas pola-pola kebiasaan lama yang selama ini membatasi karya Allah dalam kehidupan kita. (3) Dengan membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci sehingga dengan demikian membuka diri kita terhadap sentuhan Roh Kudus yang menyatakan kasih dan kerahiman Allah. (4) Dengan membuat serta bertindak atas rencana-rencana pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan dan permenungan atas bacaan-bacaan rohani dan keikutsertaan dalam kehidupan Gereja. Hal ini akan menolong terjaminnya keanggotaan kita dalam komunitas iman yang dinamakan Gereja/Tubuh Kristus, di mana Kristus adalah Kepalanya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:21-23), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH DEKAT LAGI DENGAN YESUS MELALUI SALIB-NYA” (bacaan tanggal 5-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggaal 6-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 2 September 2015 [Peringatan para Martir Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS