KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja – Kamis, 3 September 2015) 

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHU - 505

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

YESUS MENGAJAR - TENTANG TANDA RAGIBanyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah balik ke pangkalan di pantai dan membersihkan peralatan-peralatan, lalu pulang ke rumah untuk beristirahat dan siapa tahu besok “nasib” lebih baik.

Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Kata “guru” dalam bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil adalah Epistates, terjemahan dari kata dalam bahasa Ibrani Rabi. Ini adalah suatu tanda respek, suatu pengakuan bahwa “guru” berstatus lebih tinggi dari dirinya sebagai “murid”. Melawan logikanya dan pengalaman praktis yang cukup lama, Petrus mematuhi juga perintah sang Guru. Jala yang dipakai barangkali adalah jala yang baru dibasuh.

Karena Petrus mentaati perintah sang Guru, maka dia tidak saja mampu untuk menjala banyak sekali ikan, tetapi juga dia sampai pada titik pengenalan siapa Yesus itu sebenarnya. Petrus akhirnya mampu untuk sujud di hadapan Yesus dan menyapa-Nya sebagai Tuhan (bahasa Yunani: Kyrios; Luk 5:8) sambil mengakui kedosaannya. Kata Kyrios ini adalah terjemahan dari kata Ibrani Adonai, artinya “Tuhanku yang agung”. Dalam Perjanjian Lama ini adalah adalah gelar kehormatan dan penyembahan yang diberikan kepada Allah. Iman Simon Petrus telah bertumbuh! Terpujilah Allah!

Pada awalnya Petrus menyapa Yesus dengan gelar “Guru” karena respeknya dan rasa syukurnya bahwa Yesus telah menyembuhkan ibu mertuanya (Luk 4:38-39). Akan tetapi, sementara Petrus mentaati Yesus, dia melihat bahwa Yesus tidak hanya seorang guru; melainkan juga memiliki otoritas atas segenap alam ciptaan. Satu-satunya cara untuk menyapa seorang manusia sedemikian adalah dengan menggunakan kata Kyrios.

KEMURIDAN - PENJALAN IKAN MENJADI PENJALA MANUSIAKita dapat mengalami peningkatan dalam iman seperti Petrus. Selagi kita mentaati perintah-perintah Tuhan Yesus, ketaatan kita akan menghasilkan buah, kita akan melihat dengan lebih jelas lagi siapa Yesus itu, dan kita pun menanggapinya dengan iman yang lebih mendalam. Ini adalah suatu pola yang kita akan lihat setiap hari selagi iman kita bertumbuh. Simon Petrus masih harus banyak belajar, demikian pula halnya dengan kita semua. Kita akan melihat dalam Injil bagaimana Petrus masih saja bertanya dan malah menyangkal Tuhan-nya. Demikian pula hanya dengan kita! Dalam hal ini ketaatan kita akan menghasilkan buah.

Tuhan Yesus dapat meminta kepada kita untuk melakukan hal-hal tertentu yang kelihatan sulit atau bahkan tidak mungkin – mengampuni seseorang yang telah menyakiti diri kita, merawat orang sakit dan melayani “wong cilik” di dalam dan/atau di luar Gereja, atau melayani “domba yang hilang” dari komunitas kita. Barangkali Dia juga meminta agar kita syering Kabar Baik dengan anggota-anggota keluarga kita atau sejumlah tetangga kita. Bilamana kita mendengarkan Yesus dan mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita akan dapat memetik buah-buah dari ketaatan kita dan iman kita pun akan bertumbuh. Seperti juga Simon Petrus, kita pun akan bersembah sujud di hadapan Yesus dan menyapa Dia sebagai “Tuhan”.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar senantiasa mentaati perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian, seperti Petrus, akupun dapat memetik buah-buah dari ketaatan tersebut dan imanku kepada-Mu juga akan bertumbuh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “PENTINGNYA DOA” (bacaan tanggal 3-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 31 Agustus 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS