IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 19 Agustus 2015)

OFM Conventual: Peringatan Keluarga Fransiskan; Peringatan S. Ludovikus, Uskup 

LABORERS IN THE VINEYARD“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

“Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur” ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Artinya, perumpamaan ini adalah milik tradisi yang berasal dari orang-orang Kristiani ex-Yahudi awal. Umat Kristiani yang berasal dari orang-orang Yahudi ini barangkali merasa iri melihat orang-orang Kritiani yang berasal dari orang-orang non-Yahudi (baca: kafir), yang diterima belakangan namun dipandang sederajat dengan orang-orang Kristiani yang berlatar belakang Yahudi di Gereja awal.

Penerimaan orang-orang non-Yahudi ke dalam komunitas Kristiani merupakan salah satu kontroversi awal di dalam Gereja Apostolik. Ternyata hal ini menjadi masalah yang tidak kecil. Pada akhirnya kontroversi ini dipecahkan kurang lebih seperti digambarkan dalam perumpamaan hari ini.

Iri hati tentunya merupakan suatu masalah sangat mendasar yang dapat menciptakan kesulitan, baik dalam komunitas maupun dalam diri orang-orang bersangkutan.

Para pekerja kebun anggur, teristimewa mereka yang telah bekerja hari itu dengan jam kerja yang lebih panjang menunjukkan kelemahan yang fundamental ini (iri hati), keserakahan ini, yaitu dasar dari segala dosa.

jesus christ super starKebaikan, kemurahan hati dan keterbukaan Bapa surgawi terlihat jelas dalam perumpamaan ini. Kita juga dapat melihat  – seperti tercermin dalam diri sejumlah pekerja kebun anggur itu – sikap iri hati kita, keserakahan kita, ketiadaan respons terhadap kemurahan hati Allah. Apabila kita cermati cerita ini, tanggapan atau respons yang salah dari mereka terhadap kemurahan sang pemilik kebun anggur itu merupakan penyebab terjadinya perpecahan di antara para pekerja tersebut, mereka merasa iri hati dan mengeluh. Bukankah hal seperti itu mencerminkan diri kita juga? Keserakahan dan kecemburuan atau iri hati menggiring kita kepada perpecahan dalam komunitas, dalam keluarga. Hal-hal buruk itu mendatangkan dosa yang melawan cinta kasih, menimbulkan berbagai prasangka dan praduga buruk terhadap orang lain, dan yang parah juga adalah ketiadaan komunikasi.

Sang pemilik kebun anggur berkata, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”  (Mat 20:15). Apakah kita (anda dan saya) merasa iri hati karena orang-orang lain dianugerahi karunia-karunia oleh Allah? Bukankah kita harus bergembira penuh sukacita dengan para saudari dan saudara kita jika Allah baik kepada mereka? Mengapa kita harus selalu menginginkan segala hal untuk diri kita sendiri saja dan tidak untuk orang-orang lain, teristimewa mereka yang tidak kita senangi?

Tanggapan kita terhadap kemurahan hati Allah haruslah sama, yaitu kemurahan hati. Kemurahan hati dalam pelayanan kita kepada Allah dan sesama, termasuk mereka yang mungkin telah menyakiti atau mendzolimi kita, mereka yang kelihatannya sulit untuk kita kasihi.

DOA: Bapa surgawi, Engkau sangat baik dan senantiasa bermurah hati terhadap diriku dan juga anak-anak-Mu yang lain. Jagalah diriku agar tidak iri hati kepada orang-orang lain yang Kauanugerahi dengan karunia-karunia-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “PARA AWAM JUGA DIPANGGIL” (bacaan tanggal 19-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Agustus 2015 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS