JANGAN SAMPAI KEHILANGAN KONTAK DENGAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Sabtu, 8 Agustus 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Keluarga Dominikan: Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam 

CHRIST HEALS EPILEPTIC BOYKetika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4, 47,51 

Dalam beberapa beberapa bab sebelum bacaan Injil hari ini (Mat 10:5-8) kita membaca bagaimana Yesus mengutus para rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, bahkan membangkitkan orang-orang mati. Sekarang kita lihat bahwa para rasul tidak dapat menyembuhkan seorang anak yang sakit ayan. Mereka terkejut dan kiranya merasa malu. Mereka bertanya kepada Yesus secara privat: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (Mat 17:19). Yesus menjawab: “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan  ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Apakah yang sesungguhnya terjadi? Kiranya kita dapat memberi penjelasan (apalagi jika kita membandingkannya dengan Luk 10:17-20) bahwa para murid telah membiarkan upaya penyembuhan mereka dengan sekadar mengandalkan pikiran mereka, seakan kehilangan kontak dengan Allah sebagai sumber segalanya. Sebenarnya justru berdasarkan kuat-kuasa Allah mereka menjadi mampu melakukan penyembuhan, artinya memperkenankan  Allah berkarya melalui diri mereka. Namun memang selalu ada bahaya untuk berpikir “aku”-lah yang melakukannya, bukannya Allah yang melakukan hal-hal hebat. Para murid sangat mungkin telah terjatuh ke dalam perangkap sedemikian.

Yesus memperingatkan kita akan bahaya dari sikap sedemikian. Ketika mereka pulang dari salah satu perjalanan misi pewartaan mereka, mereka mengatakan: “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu” (Luk 10:17). Kita harus senantiasa mengingat bahwa kesombongan adalah sebuah perangkap yang besar dan lebar. Yesus bersabda, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk 10:20). Artinya, kita seharusnya bersukacita karena Allah mengasihi kita dan memilih untuk menunjukkan kasih-Nya kepada saudari dan saudara kita melalui diri kita. Kita juga tidak pernah boleh lupa bahwa kuat-kuasa di sekeliling adalah Allah! Inilah arti sesungguhnya dari iman – tetap berkontak dengan Allah; Allah-lah yang selalu memegang komando.

Segala pekerjaan saya hanyalah berarti sepanjang saya memperkenankan Dia untuk melakukannya melalui diri saya. Dalam hidup saya, saya harus senantiasa memperkenankan Allah sebagai Allah. Dalam artian tertentu itulah iman, dan itulah kuasa yang mengerjakan segala tanda heran.

Marilah kita merenungkan apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah”  (1Kor 1:26-29).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku. Semoga pikiran dan hatiku tetap menyatu dengan pikiran dan hati-Mu. Buanglah jauh-jauh dari diriku, ya Tuhan Allahku, kesombongan dan apa saya yang tidak berkenan di hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi murid Yesus yang baik dan memperkenankan Dia melakukan karya-karya baik melalui diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMANLAH YANG DIPERLUKAN” (bacaan tanggal 8-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 4 Agustus 2015 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements