SALIB ADALAH SARANA MENUJU HIDUP BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Jumat, 7 Agustus 2015)

Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam & Martir 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASLalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

Injil adalah mengenai apa yang Yesus telah lakukan bagi kita dan juga apa yang harus kita lakukan pada giliran kita, jika kita ingin menerima semua yang ditawarkan oleh-Nya. Pertanyaan tentang “apa yang harus kita lakukan” inilah yang dijawab dalam perintah Yesus bahwa kita harus memikul salib kita dan mengikut Dia (lihat Mat 16:24).

Manakala kita mendengar kata “salib”, kita cenderung untuk berpikir tentang kesulitan, beban, atau rasa sakit. Tentu saja hal-hal ini terkadang dapat menjadi kenyataan. Biar bagaimana pun juga hidup di dunia ini tidak selalu mudah, dan ada waktu-waktu di mana Yesus akan menunjukkan kepada kita area-area kehidupan kita yang harus diubah atau “disalibkan”. Walaupun memang menyakitkan, salib senantiasa merupakan jalan kepada suatu pengalaman yang lebih mendalam tentang hidup yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi kita.

Dari kitab-kitab Perjanjian Lama (misalnya Keluaran dan Ulangan) kita dapat melihat perpindahan dari hidup lama kepada suatu hidup baru. YHWH-Allah memimpin umat Israel dari kehidupan lama mereka sebagai budak-budak di Mesir kepada suatu kehidupan baru di Tanah Terjanji. Selagi umat Israel berkelana di padang gurun, mereka mengalami Allah membebaskan diri mereka dari ketidakpercayaan dan cara-cara yang mementingkan diri sendiri, dan membentuk mereka menjadi sebuah umat yang baru. Perjalanan umat Israel melalui gurun pasir tidak selalu mudah, namun sangat berbuah.

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKUAllah menginginkan agar jika kita mendengar kata “salib”, maka kita langsung berpikir bahwa ini adalah “kabar baik”! Allah ingin agar kita melihat salib sebagai sarana untuk meninggalkan berbagai sampah dalam kehidupan kita – keserakahan/ketamakan, prasangka dan praduga, atau keangkuhan/kesombongan dlsb., supaya kita dapat mengalami keakraban dengan Dia yang dibawa Yesus dengan kedatangan-Nya ke tengah dunia. Oleh karena itu marilah kita merangkul salib kita masing-masing dan memikulnya sehingga dengan demikian Allah dapat memenuhi diri kita dengan suatu cara berpikir yang baru, cara bertindak yang baru, dan cara hidup yang baru pula. Marilah kita menaruh rasa percaya kita pada tangan-tangan kasih Yesus dan yakin bahwa salib akan memimpin kita kepada kehidupan kekal dalam hadirat Allah, bebas dari segala rasa susah dan maut.

DOA: Dimuliakanlah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena membuat hidup lamaku menjadi mati melalui salib-Mu dan memberikan kepadaku hidup yang sepenuhnya baru. Tolonglah aku agar mau dan mampu memikul salibku dan mengikut Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “MATI TERHADAP HIDUP LAMA KITA” (bacaan tanggal 7-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Agustus 2015 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS