RAHMAT YANG TERSEDIA BAGI KITA DALAM EKARISTI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 3 Agustus 2015)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 600Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Yesus ingin sekali memuaskan rasa lapar (fisik) orang banyak yang berjumlah lebih dari 5.000 orang yang diberi-Nya makan pada hari itu di Galilea, namun terlebih-lebih Ia juga ingin memberi makanan spiritual kepada orang banyak itu. Sejak abad-abad pertama sejarahnya, Gereja telah melihat dan mengartikan penggandaan roti dan ikan itu sebagai peristiwa yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Ekaristi, di mana Yesus memberi makan jutaan manusia setiap hari dengan tubuh dan darah-Nya.

2007_mass_hspiritBayangkanlah rahmat yang tersedia bagi kita pada Misa Kudus, kalau saja kita mau mendengarkan suara-Nya. Apa lagi yang dapat lebih mengubah hidup kita daripada berkumpul bersama sedemikian banyak umat Allah dalam suatu doa pujian dan penyembahan? Apakah yang lebih penuh kuat-kuasa daripada menerima Yesus Kristus sendiri, dan memperkenankan tubuh dan darah-Nya bercampur dengan tubuh dan darah kita sendiri, dan memperkenankan Roh Kudus mengangkat roh kita sampai ke hadapan takhta surgawi? Konsili Vatikan II menyatakan: “Jadi dari Liturgi, terutama dalam Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya”  (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

Namun demikian, kita semua mengetahui bahwa betapa mudahnya kita pergi ke gereja untuk menghadiri Misa Kudus tanpa mengharapkan diri kita diubah. Kita semua juga mengetahui bagaimana dengan cepatnya doa-doa dan bacaan-bacaan Kitab Suci dalam Misa dapat menduduki tempat terbawah ketimbang pelanturan-pelanturan yang mengganggu kita, misalnya makan bersama keluarga di “Bakmi Gajah Mada” setelah Misa, kekhawatiran tentang masa lalu, mimpi akan masa depan, dst. Bagaimana kita melawan dan membalikkan tendensi ini? Dengan persiapan yang baik sebelum Misa.

431788_10151533453919000_1047050005_nApa yang dimaksudkan dengan persiapan di sini? Kita meluangkan sedikit waktu untuk berada bersama Tuhan sebelum kita berangkat untuk mengikuti Misa. Kita mohon kepada-Nya agar memeriksa hati kita dan menunjukkan kepada kita dalam hal mana saja kita harus bertobat sehingga dalam “ritus tobat” dalam awal Misa kita dapat mengalami pertobatan. Kita juga meluangkan waktu untuk membaca bacaan-bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa, sehingga ketika sabda Tuhan diproklamasikan dalam liturgi kita pun akan mendengar Yesus sendiri berbicara kepada kita secara pribadi. Baik sekali juga bagi kita apabila mengambil waktu sejenak untuk mengenang tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan untuk kita di atas kayu salib, dan kita berterima-kasih kepada-Nya dengan penuh syukur karena mengasihi kita – manusia – dengan begitu mendalam sampai mati di kayu salib.

Persiapan apa pun yang kita lakukan, kita harus senantiasa menyadari bahwa apabila kita mendatangi meja Tuhan dengan kerendahan hati yang tulus, hati yang bertobat, siap untuk diubah oleh Tuhan, maka Ekaristi dapat menjadi suatu pengalaman yang paling mempunyai kuat-kuasa atas hidup kita. Semoga kita semua datang ke Misa Kudus dan mengalami apa yang dikatakan oleh sang pemazmur: “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN (YHWH) itu!” (Mzm 34:9).

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh takjub menyaksikan dan mengalami belarasa-Mu dalam hidupku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengurbankan hidup-Mu sendiri di atas altar salib agar aku mempunyai hidup-Mu dalam diriku. Terima kasih Yesus, Engkau memberi aku makan dengan tubuh-Mu sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu sendiri, tolonglah aku membuka diriku bagi kuat-kuasa kasih-Mu yang akan mentransformasikan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang  berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 3-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Juli 2015 [Peringatan S. Ignasius dr Loyola] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS