MAKANAN BAGI JIWA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [TAHUN B] – 2 Agustus 2015)

YESUS MENGUTUS 70 ORANG MURID

Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:24-35)

Bacaan Pertama: Kel 16:2-4,12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,23-25,54; Bacaan Kedua: Ef 4:17,20-24

KOMUNI KUDUS - 111Tuhan Yesus memiliki keprihatinan atas berbagai kebutuhan kita yang mendasar dan kesejahteraan kita. Dia tidak hanya menyediakan makanan ketika Dia menggandakan  roti dan ikan yang sedikit untuk orang banyak yang mengikuti-Nya, melainkan juga makanan spiritual. Ia ingin mengingatkan kita bahwa di samping makanan yang kita perlukan guna memenuhi kebutuhan untuk memuaskan tubuh kita, kita juga harus memelihara dan memberi makan jiwa kita. Jadi Yesus memutuskan untuk “bersembunyi” di dalam roti dengan segala kuat-kuasa-Nya guna menjadi makanan bagi jiwa para pengikut-Nya.

Bagaimana Ekaristi dalam Komuni Kudus memberi makanan dan memperkuat kita? Pertama-tama, tubuh dan darah Kristus tidak akan mengubah kodrat manusia kita, yaitu kodrat yang sangat rentan terhadap kejahatan sebagai akibat dari dosa asal. Juga tidak akan mengubah kecenderungan-kecenderungan manusia yang khusus. Ekaristi akan mengangkat kodrat manusiawi kita, namun tidak untuk menggantikannya dengan sejenis kodrat yang berbeda. Dengan menerima Komuni Kudus kita tidak akan berhenti menjadi manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya.

Dengan menerima Komuni Kudus, kita tidak akan secara otomatis menghilangkan kecenderungan-kecenderungan kita akan yang jahat di dalam diri kita. Misalnya orang yang mempunyai suatu kelemahan dalam hal “miras” dapat menerima Komuni Kudus seratus kali namun tetap saja “rindu” untuk menikmati “miras” kesayangannya. Hal ini  bukanlah untuk mengatakan bahwa Allah tidak mampu membuat mukjizat melalui Ekaristi Kudus. Tetapi Dia tidak menjanjikannya, dan itu bukanlah cara Allah bekerja dalam sakramen.

Komuni Kudus tidak diberikan kepada kita untuk membuat hidup kita lebih mudah atau membuat kita seperti bionic women atau bionic men. Karena kasih-Nya kepada kita, Kristus memberikan Ekaristi kepada kita, agar kita menjadi sadar akan kasih-Nya ini dan berjuang untuk mencapai Kerajaan Allah lewat upaya yang konsisten dan tekun.

Jadi, bagaimana sesungguhnya Ekaristi menguatkan kita? Dalam Ekaristi Allah memberikan diri-Nya sebagai makanan yang adalah isyarat dari kasih-Nya. Namun dari diri kita yang lemah dan cenderung berdosa, kita menanggapi dengan membalas mengasihi Dia. Kasih kita kepada-Nya membuat kita merasa malu untuk melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya. Santo Dominikus Savio [1842-1857] pernah mengatakan, “Aku lebih baik mati daripada menyakiti hati-Nya.” Sesungguhnya kita masih memiliki kodrat yang cenderung berdosa. Kita masih mempunyai “nyali” untuk mencuri, untuk berbohong, untuk tergila-gila main perempuan, untuk sibuk mabuk dengan “miras” atau narkoba, untuk berdosa, melakukan korupsi dlsb. Namun sekarang, memikirkan hal-hal seperti itu menjadi semakin memuakkan bagi kita karena semua itu menyakitkan hati-Nya, Dia yang kita kasihi.

THE BODY OF CHRIST - 001Itulah bagaimana Ekaristi memberi asupan makanan kepada kita dan memperkuat kita. Bukan dengan membuat kita kurang manusiawi, melainkan dengan membuat kita menjadi lebih berani. Tidak dengan menghapuskan godaan, melainkan dengan membuat kita lebih kuat untuk mengatakan “tidak” terhadap godaan tersebut. Bukan dengan membuat hidup menjadi empuk-nyaman, melainkan dengan memberikan kepada kita keberanian untuk dengan gigih berjuang melawan segala godaan tersebut. Tidak dengan memberikan kepada kita kodrat yang lain, melainkan dengan mengangkat kodrat yang kita miliki ke tingkat yang lebih tinggi.

Ketika seorang ibu mencium anaknya yang masih kecil dan memelihara serta menjaganya, ini adalah cara ibu untuk mengatakan: “Aku mencintai engkau.” Karena kasih sang ibu yang besar, anak itu membalasnya dengan melakukan hal-hal yang tidak menyusahkan dan menyakitkan hati sang ibu yang sangat mengasihinya. Anak itu menjadi malu untuk menyakiti hati ibunya. Demikian pula dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan memberikan kepada kita karunia kasih-Nya yang tertinggi – tubuh dan darah-Nya sendiri. Menanggapi hal itu, kita mengatakan, “Aku ingin membalas kasih-Mu! Aku tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakitkan hati-Mu.”

Di beberapa negara Timur Tengah di mana ada relatif banyak para pekerja yang berasal dari Filipina, mereka secara rahasia menyelenggarakan Misa “bawah tanah” dan menerima Komuni Kudus, pertemuan mana seringkali sangat berisiko tertangkap dan dikenakan hukuman. Mengapa mereka melakukan hal seperti ini? Mungkin karena dirampasnya hak merayakan sakramen oleh pihak berkuasa membuatnya malah menjadi lebih dihasrati dan dirindukan. Namun kita tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa dalam diri setiap pribadi terdapat suatu kebutuhan manusiawi untuk memperoleh suatu kepuasan lebih mendalam, untuk makanan yang lebih tahan lama. Dan makanan ini yang telah diberikan oleh Tuhan dalam sakramen Ekaristi

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Roti Kehidupan yang turun dari surga. Engkau datang untuk menyelamatkan kami semua dari dosa dan maut. Walaupun iman kami lemah, Engkau datang ke tengah-tengah kami dan memberi makan untuk iman kami yang kecil ini agar bertumbuh terus. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:24-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN [3]” (bacaan tanggal 2-8-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS