IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 21 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam dan Pujangga Gereja 

YESUS MENGAJAR ORANG-ORANGKetika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50) 

Bacaan Pertama: Kel 14:21-15:1; Mazmur Tanggapan: Kel 15:8-10,12,17 

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Mengapa Yesus mengajukan pertanyaan seperti ini? Tentu saja Dia mengenal para anggota keluarganya. Namun Ia ingin menyampaikan sebuah pesan penting: Menjadi anggota keluarga Allah tidak ada urusannya dengan hubungan darah dan sepenuhnya berurusan dengan pertobatan, iman, dan ketaatan kepada-Nya dari hari ke hari.

Allah tidak mempunyai cucu. Orang-orang tidak menjadi anggota-anggota keluarga-Nya hanya sekadar karena asosiasi dengan orang-orang Kristiani lainnya. Setiap orang harus menjadi seorang anak Allah melalui tanggapannya sendiri terhadap rahmat Allah. Latar belakang keluarga dan budaya tidak pernah dapat mengambil tempat “iman pribadi kepada Allah”. Kita tidak dapat mengklaim keanggotaan dalam keluarga Yesus karena keluarga kita itu religius, atau karena kita berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, atau karena kita memberi uang untuk gereja. Sama sekali tidak! Yesus menyatakan dengan jelas: “… siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:50).

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETMemang benar, rahmat Allah diberikan kepada kita secara bebas dan gratis pada waktu kita dibaptis. Namun iman pribadi kepada Kristus, persaudaraan sejati dengan Dia, bersumber pada rahmat itu untuk mengembangkan suatu hidup ketaatan kepada Allah. Yesus mengingatkan  bahwa “bukan setiap orang yang berseru kepada-Nya Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Nya yang di surga” (lihat Mat 7:21), artinya hanya mereka yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan taat kepada sabda-Nya. Yesus juga mengatakan bahwa tanda yang membedakan para murid-Nya dengan orang-orang lain adalah saling mengasihi di antara mereka seperti Dia sendiri telah mengasihi mereka (lihat Yoh 13:34-35). Selagi kita hidup di bawah atap rumah Bapa, taat pada “peraturan rumah tangga”-Nya, dan hidup seperti Yesus hidup, maka kita dapat diindentifikasikan sebagai anggota-anggota keluarga-cintakasih-Nya. Yesus adalah Saudara tua kita, dan sebagai anggota keluarga-Nya wajarlah apabila kita memiliki keserupaan dengan diri-Nya.

Hidup sebagai anggota-anggota keluarga Yesus menyangkut tindakan membuang hidup dosa kita yang lama dan secara berkesinambungan mengalami proses pembentukan kembali ke dalam keserupaan dengan Yesus, selagi kita menyerahkan diri kita kepada rahmat-Nya. Hal ini mempunyai implikasi konkret atas cara hidup kita setiap hari. Cukup seringkah kita bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah yang harus kulakukan dalam situasi ini” atau “Yesus, bagaimana Engkau akan menangani ini? Ketaatan terkadang dapat terasa sulit, namun ada berkat besar dan kebebasan dalam hal menjadi saudari dan saudara Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang taat. Dengan ini aku menyerahkan hati dan pikiranku kepda-Mu. Buanglah segala sesuatu dalam diriku yang bukan berasal dari-Mu, agar dengan demikian hanya Engkaulah yang tetap ada dalam diriku. Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 21-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 18 Juli 2015 [HARI RAYA S. ODILIA, Perawan dan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS