Saint_Bonaventure-670x433

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, 

Hal: Santo Bonaventura [1221-1274] 

Orang kudus yang pestanya kita rayakan pada hari ini, tanggal 15 Juli, adalah pengikut S. Fransiskus dari Assisi yang besar, kelahiran Bagnorea di Negara-negara Kepausan. Ketika berumur 4 tahun ia menderita sakit gawat. Ibunya menggendong bocah itu dan bertemu dengan Fransiskus dari Assisi yang semasa hidupnya sudah dipandang sebagai seorang kudus, dan pada saat itu sedang berkhotbah tidak jauh dari tempat kediaman mereka. Fransiskus mengabulkan permohonan sang ibu dengan mendoakan anak itu. Anak itu pun langsung menjadi sembuh. Konon pada pertemuan itu Fransiskus meramalkan bahwa akan terjadi hal-hal besar pada anak itu. Fransiskus memberkati anak itu dan berseru: “O buona ventura”, artinya “O hal-hal penuh berkat yang akan datang!”. Dan kata itu diabadikan sebagai nama anak itu. 

Akan tetapi, berbeda dengan Bapak Fransiskus, Bonaventura yang sempat diangkat menjadi minister jenderal Ordo Fransiskan itu, memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, namun rendah hati dan dina dalam sikap dan perilaku seperti Fransiskus, dan dia pun menjalani kehidupan saleh sebagai seorang Kristiani sejati. Ia juga dijuluki sebagai pendiri Ordo Saudara Dina yang kedua setelah Fransiskus. Dia seorang dosen/profesor di Universitas Paris (pada waktu itu disebut magister), belakangan  (setelah wafat) diangkat menjadi Pujangga Gereja dengan gelar khusus Doctor Seraphicus. Ketika berumur 52 tahun (1273), Paus Gregorius X [masa pontifikat: 1272-1276] mengangkat (dengan agak memaksa) Bonaventura menjadi seorang kardinal dan uskup Albano. Selama itu dia selalu menolak segala tawaran untuk menjadi petinggi Gereja. Tatkala tengah asyik mencuci piring, tiba-tiba datanglah utusan Sri Paus kepada Bonaventura dengan membawa lambang-lambang kekardinalan. Bonaventura melanjutkan tugas cuci-piringnya dan menggantungkan topi kardinal pada dahan pohon. Sungguh luarbiasa dan tentunya sungguh Fransiskan! P. A. Heuken SJ (ENSIKLOPEDI ORANG KUDUS) benar sekali ketika mengatakan, bahwa Bonaventura itu bagaikan permata juitanya Gereja, karena jarang ada orang yang dikaruniai keserasian sedemikian antara pengetahuan dan kesucian dalam dirinya (hal. 83). 

Dalam satu homilinya yang berkaitan dengan Ekaristi, Bonaventura mengatakan a.l. sebagai berikut: “Kristus akan berteriak melawan imam-imam palsu yang menjual tubuh dan darah Kristus.  Ini adalah imam-imam yang secara tidak pantas mengkonsekrasikan dan makan (catatan: tubuh Kristus). Gregorius mengatakan, ‘Dalam contoh yang diberikan Yudas, Anak Manusia dikhianati oleh siapa saja yang berani tidak menghormati Sakramen Tubuh Tuhan yang paling dihormati.’ O! Apa yang mereka lakukan – para pengkhianat terus-menerus, yang begitu seringkali secara tidak pantas berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi! O! Apabila banyak orang akan dihukum keras pada pengadilan (terakhir) karena sekali saja tidak menahan diri, kesombongan pribadi, ketamakan/keserakahan, atau iri hati/cemburu – dengan rasa malu yang bagaimana mereka yang begitu sering mengkhianati Kristus akan menampilkan diri? Oleh karena itu, hati manusia harus pertama-tama disikat dan digosok karena dia akan menerima ‘minyak balsem’ yang begitu berharga, yang begitu agung, keseluruhan harta surgawi, kemuliaan segala malaikat, Tuhan segala zaman, hakim dari orang yang hidup dan mati: “Siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan” (1Kor 11:27). Oleh karena itu, “Sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN (YHWH)”(Yes 52:11).” (Bonaventure, Rooted in Faith, Homilies to a Contemporary World, hal. 80-81). 

Selamat pesta, Saudari dan Saudaraku!

Cilandak, 15 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

p.s. Surat ini adalah salinan dari tulisan di tahun 2011 dengan sedikit perbaikan.