SEPERTI ANAK BUKAN BERARTI KEKANAK-KANAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Rabu, 15 Juli 2015)

YESUS MENGAJAR - HE WAS THE TEACHERPada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Yesus memuji dengan penuh syukur Bapa-Nya di surga karena menyatakan misteri keselamatan kepada anak-anak melalui Putera-Nya – “Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Kata-kata Yesus ini dapat menjadi suatu penghiburan dan sekaligus suatu misteri bagi kita. Kita merasa terhibur bahwa Yesus ingin agar kita datang kepada-Nya dengan hati seorang anak. Akan tetapi kita sebagian dari kita yang sudah cukup “matang” barangkali masih bertanya-tanya apakah kita masih dapat mengingat apa sih artinya menjadi seorang anak. Bagaimana kita dapat menangkap kembali kesederhanaan dan rasa percaya ketika kita masih anak-anak? Kita dapat merasa dinodai oleh berbagai falsafah duniawi sampai sampai kita bertanya-tanya apakah sebuah mobil baru atau tambahan uang akan membuat kita merasa lebih aman daripada mengetahui dan yakin bahwa kita sangat dikasihi dan dihargai oleh Bapa surgawi.

Namun baiklah kita sekarang melihat bacaan Injil ini dari sudut pandang yang lain. Memang benar bahwa anak-anak dapat sedemikian menaruh kepercayaan, akan tetapi mereka juga secara alamiah dapat menjadi begitu kekanak-kanakan (Inggris: childish). Cobalah pikirkan para orangtua yang  harus belajar bagaimana berurusan dengan kemarahan anak mereka atau kebiasaan makan yang rewel. Kita mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak kita, namun ada waktu-waktu di mana mereka kelihatan tidak mempercayai kita. Tentu saja ini bukan jenis “anak kecil” yang dimaksudkan oleh Yesus.

Banyak bapak dan ibu sangat senang melihat anak-anak mereka mencoba untuk mencontoh mereka. Misalnya, bahkan seorang anak perempuan yang masih kecil sekalipun mencoba untuk mencuci piring seperti ibunya, dan malah membuat proses pencucian itu menjadi acak-acakan dan berantakan. Akan tetapi, upaya seperti itu dari pihak sang anak adalah sesuatu yang sungguh menggembirakan. Demikian juga dengan Yesus. Ia senang bilamana kita mencoba sebaik-baiknya untuk mencontoh-Nya –  bahkan jika kita salah dalam melakukan-Nya. Mengapa begitu? Karena dengan meniru dan  memakai gaya anak kecil (Inggris: childlike), kita dapat mengatasi cara-cara yang kekanak-kanakan dari dosa. Allah sangat senang apabila kita meninggalkan ketidakpercayaan kita dan kemudian merangkul suatu sistem kepercayaan yang sederhana, yang akan menyempurnakan apa saja yang tidak ada dalam hidup kita.

Kita dapat memperoleh kembali rasa percaya dan kemauan untuk mencoba hal-hal baru seperti anak kecil. Yang harus kita lakukan hanyalah memilih arah mana saja yang benar bagi kita, walaupun tentunya dengan rendah hati dan terbuka. Kemudian, kita hanya perlu memperhatikan janji-janji Roh untuk menyatakan diri-Nya kepada mereka yang mencoba – walau pun mereka salah.

DOA: Yesus, tolonglah aku menjadi anak yang berjalan bersama dengan-Mu dan berbicara dengan-Mu dan mengikut-Mu kemana pun Engkau pergi. Penuhi diriku dengan kasih-Mu sehingga dengan demikian satu-satunya hal yang kuinginkan adalah Engkau saja, ya Yesusku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 3:1-6,9-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENCARI SEMAK BERDURI YANG MENYALA DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 15-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juli 2015 [HARI MINGGU BIASA XV] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS