DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 8 Juli 2015) 

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Kej 41:55-57;42:5-7a,17-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,10-11,18-19

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil menjadi rasul oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Sebenarnya mereka belum lama bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil mereka “dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (lihat Mat 10:1). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk dapat diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, ternyata masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme. Para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat: ada nelayan, ada pemungut cukai, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner Zeloti dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Yesus tidak memandang bulu dalam memilih murid atau rasul! (Bacalah buku bagus karangan P. John Wijngaards, I have No Favorites – Jesus Accepts Followers Unconditionally, New York and Mahwah, N.J.: Paulist Press, 1992, 208 halaman).

Dalam bab 18 Injilnya, Matius mencatat bahwa para murid bertanya kepada Yesus mengenai siapa di antara mereka yang paling besar dalam kerajaan surga (Mat 18:1). Yesus mengetahui sekali latar belakang dari pertanyaan para murid itu. Mungkin sebelumnya telah terjadi perdebatan di antara para murid dan Yesus pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini kelihatannya telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus membuang jauh-jauh perbandingan-perbandingan seperti itu. Sambil memegang seorang anak kecil di tengah-tengah para murid, Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:2-5).

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYATeguran Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan seturut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa  di Masa dan Meriba ini (lihat kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan  sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!

Yesus juga telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini, misalnya karunia untuk menyembuhkan orang sakit dll. Namun demikian, marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita menolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan. Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Utuslah kami juga sebagai garam bumi dan terang dunia dalam mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang yang kami jumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BELAS RASUL DIPILIH OLEH YESUS ” (bacaan tanggal 8-7-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-7-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 5 Juli 2015 [HARI MINGGU BIASA XIV]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS