KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MEMENUHI JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Jumat, 26 Juni 2015) 

35-abraham
Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN (YHWH) menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat …”

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menami dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. (Kej 17:1,9-10,15-22) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Injil: Mat 8:1-4 

Sungguh suatu momen sangat istimewa dalam kehidupan Abraham! TUHAN (YHWH), Allah, telah membuat perjanjian – suatu ikatan yang mendalam dan kekal – dengan Abraham di mana Dia menjanjikan turunan kepadanya dan tanah yang akan menjadi miliknya. Sekarang, Allah memberi perintah kepada Abraham: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej 17:1). Abraham mendapat kehormatan untuk hidup di hadapan hadirat Allah. Ia disenangi oleh Allah di atas orang-orang lain untuk menerima perwahyuan ini, yaitu bahwa hasrat penuh kasih Allah adalah agar manusia tinggal/berdiam bersama dengan diri-Nya.

Namun demikian, kelihatannya Abraham belum sepenuhnya memahami karunia Allah. Ketika Allah mendeklarasikan bahwa Dia akan menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan Sara – suatu karunia yang tentunya merupakan sebuah mukjizat apabila kita mempertimbangkan usia kedua orang itu – Abraham kelihatannya bersikap skeptis (lihat Kej 17:17). Ia mengatakan kepada Allah bahwa dirinya puas dengan Ismael, puteranya dari perkawinanannya dengan hamba perempuan Sara yang bernama Hagar (Kej 17:18; baca: Kej 16:1-16). Kelihatannya di sini Abraham memandang rendah kemampuan Allah untuk memenuhi janji-Nya akan seorang anak laki-laki melalui sarana ilahi. Abraham ternyata berhenti pada titik yang dimungkinkan pada tingkat pemikiran manusiawi saja.

Bukankah kita (anda dan saya) juga sering menunjukkan sikap yang sama? Kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang ditebus oleh Kristus, dipisahkan dari yang lain-lain oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Namun, melalui ketiadaan rasa percaya, sinisme, atau iman yang tidak maju-maju (stagnant), kita membatasi ekspektasi kita akan kasih dan kebaikan Allah yang tanpa batas itu sehingga dengan demikian menghilangkan identitas kita sebagai anak-anak-Nya. Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri: Ketika kita mendengar janji-janji Allah dalam Kitab Suci atau membaca tentang mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus, apakah kita bereaksi dengan mengatakan bahwa semua itu “bukan untuk aku”, atau “kalaupun untuk aku … bukan untuk hari ini”? Apabila Roh Kudus mengungkapkan pola-pola dosa yang sudah lama mengendap dalam diri kita atau memori-memori yang menyakitkan hati dan tentunya membutuhkan kesembuhan, apakah kita membiarkan diri kita tetap hidup dengan memendam akar kepahitan daripada pergi menghadap Kristus agar Ia menyembuhkan dan mengubah kita? Jikalau kita melihat anggota keluarga kita atau sahabat kita yang membutuhkan kesembuhan fisik atau spiritual, apakah kita menutup diri kita terhadap kemungkinan terjadinya mukjizat? Kita harus mengakui bahwa kelihatannya kita tidak jarang merasa puas untuk hidup kurang daripada yang Allah ingin lakukan bagi kita.

Kita tidak pernah boleh lupa bahwa Injil adalah pengumuman tentang kedatangan Allah yang penuh kuat-kuasa dan belas kasih. Yesus sendiri telah memenangkan pengampunan dan penebusan kita dari kuasa kejahatan (si jahat). Kita tidak lagi perlu ditindih oleh rasa bersalah atau rasa putus asa apabila menghadapi dosa atau penderitaan. Yesus telah mati dan bangkit guna menawarkan kepada kita penyembuhan, pelepasan (pembebasan), rekonsiliasi, kuat-kuasa, dan sukacita. Marilah kita tidak berpengharapan kurang dari semua itu.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah aku karena aku sering meminimalisir hidup yang Engkau telah janjikan kepadaku. Perkenankanlah aku berjalan di dalam kehadiran-Mu dan menerima rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan menjadi seorang saksi-Mu yang hidup bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 8:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “SETIA DALAM HAL-HAL BAIK WALAUPUN KECIL” (bacaan tanggal 26-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 21 Juni 2015 [HARI MINGGU BIASA XII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements