TEGURAN YESUS YANG DITUJUKAN KEPADA KITA JUGA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XII [Tahun B], 21 Juni 2015

 800px-Eugène_Delacroix_-_Christ_Endormi_pendant_la_Tempête

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: Ayb 38:1,8-11; Mazmur Tanggapan: 107:23-26,28-31; Bacaan Kedua: 2Kor 5:14-17 

“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40). Dengan kata-kata ini Yesus menegur para murid-Nya. Akan tetapi, teguran itu pun sebenarnya ditujukan kepada kita juga. Yesus juga menegur kita karena kita merasa takut berkaitan dengan banyak hal. Ini adalah pelajaran yang sangat baik yang Ia ingin ajarkan kepada kita. Seringkali kita merasa khawatir tentang begitu banyak hal tanpa banyak kepercayaan akan kebaikan Allah dan kuat-kuasa-Nya.

Kita tidak membutuhkan bukti bahwa rasa takut itu sangat menyebar-luas. Orang-orang miskin merasa takut bahwa mereka tidak dapat survive dalam kehidupan yang semakin sulit, uang belanja sembako yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, uang sekolah anak-anak mereka, kehilangan pekerjaan dlsb. Orang-orang kaya merasa takut kehilangan kekayaan yang mereka telah berhasil timbun selama ini, mungkin karena salah hitung dalam investasi lewat pasar modal. Orang-orang dengan latar belakang pendidikan biasa-biasa saja takut berbincang-bincang dengan mereka yang berpendidikan tinggi karena mereka merasa rendah-diri dan khawatir dipermalukan. Orang-orang yang berpendidikan seringkali merasa takut kehilangan posisi sosial dan prestise mereka. Di sisi lain juga masih ada pengaruh takhyul di sana sini dalam kehidupan manusia. Misalnya orang lebih berani menabrak manusia daripada seekor kucing yang menyeberang jalan.

Orang-orang tanpa agama atau iman merasa takut menghadapi ketidakpastian hidup dan teristimewa terhadap kapan datangnya maut. Akan tetapi, sungguh menyedihkan dan mengejutkanlah untuk melihat orang-orang yang kelihatan beriman justru tidak dapat membebaskan diri dari rasa takut.

Orang-orang yang disebut terakhir ini adalah seperti para murid Yesus dalam bacaan Injil di atas. Walaupun Tuhan Yesus sendiri ada bersama mereka dalam perahu ketika mereka terjebak di tengah amukan angin ribut, mereka masih saja berseru kepada-Nya dalam ketakutan mereka: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Dalam kebaikan-Nya, Yesus membentak angin ribut dan danau sehingga menjadi teduh sekali (Mrk 4:39), namun Ia menegur para murid untuk ketiadaan iman dan rasa takut mereka yang tetap ada walaupun Ia berada di TKP bersama mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40).

Yesus juga mengalamatkan teguran yang sama kepada kita sehubungan dengan rasa khawatir dan rasa takut kita akan hal-hal kecil. Kita lupa bahwa Dia senantiasa menyertai kita. Dia adalah Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita. (Mat 1:23; bdk. 28:20). Kita merasa khawatir tentang kesehatan kita yang terus menurun, kita merasa khawatir akan masa depan anak-anak kita, dll.

Tentu saja ada yang dinamakan rasa takut yang sehat atau keprihatinan yang sehat. Kita harus mengambil langkah “jaga-jaga” yang diperlukan bagi kehidupan kita, keluarga kita, kesejahteraan spiritual kita sekeluarga. Juga pandangan yang sehat tentang dosa dan segala akibatnya.

Ada banyak sekali kekhawatiran bodoh yang menghambat pekerjaan kita, kebahagiaan kita dan kehidupan spiritual kita. Ini adalah rasa takut untuk mana Yesus menegur kita dan meminta kepada kita untuk hanya mengingat bahwa Dia selalu ada bersama kita.

DOA:  Tuhan Yesus, kami mengetahui bahwa Engkau ingin mengajar kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu dalam situasi apa pun di mana kami berada. Engkau ingin agar kami menyadari betapa besar hasrat-Mu agar kami menerima Engkau dengan sepenuh hati sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS INI?” (bacaan tanggal 21-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

Cilandak, 17 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS