JANGANLAH KAMU MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRIMU DI BUMI

(Bacaan Kudus Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Jumat, 19 Juni 2015)

1-sermon-on-the-mount-granger

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:18,21b-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7

Setelah menyelesaikan uraian terkait bagian Kristiani dari tradisi-tradisi Yahudi tentang pemberian derma, doa dan puasa, Matius sekarang mengumpulkan sejumlah kata-kata  atau sabda-sabda Yesus, semua itu merupakan konsekuensi-konsekuensi praktis dari martabat Allah sebagai seorang Bapa sebagaimana diproklamasikan dalam doa “Bapa Kami”. Jika ada satu tema yang terus berjalan sampai akhir “Khotbah di Bukit” ini, maka temanya adalah ini: Apabila Allah adalah Bapamu, maka percayalah kepada-Nya dan tunjukkanlah bahwa rasa percayamu dengan cara hidupmu.

Musuh pertama dari rasa percaya (trust) dimaksud adalah nafsu akan harta-kekayaan. Ironinya adalah bahwa harta benda duniawi, bahkan uang itu sendiri adalah barang-barang yang tidak tahan lama dan mudah menjadi rusak, bagaimana pun ketatnya kita menjaga semua itu. Di banyak negera terkebelakang masih ada praktek luas di mana orang-orang menguburkan harta-benda mereka di bawah lantai rumah mereka, atau membuatnya menjadi perhiasan yang dipakai sehari-hari. Apakah bank-bank atau bursa saham dewasa ini lebih aman? Inti masalahnya adalah bahwa bagaimana pun besarnya harta benda atau betapa amannya penyimpanan atau investasi, rasa cemas tentang semua itu mengklaim hati kita. Yesus tidak menyalahkan atau katakanlah “mengutuk” pencarian nafkah secara jujur. Yesus memperingatkan bahaya dari pengumpulan dan penumpukan harta-kekayaan, yang menguras energi dan menjauhkannya dari upaya pengumpulan harta-kekayaan spiritual yang tidak pernah akan rusak.

Rasa cemas akan kepemilikan materiil dan kebutuhan sehari-hari memang seharusnya tidak menghabiskan waktu dan energi seorang murid Yesus, dan menyimpangkan dirinya dari tanggung-jawabnya sebagai seorang anak Allah. Secara total terserap dalam hal pengejaran hal-hal duniawi berarti tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Prioritas seorang beriman haruslah mencari Kerajaan Allah dengan ketaatan terhadap kehendak Allah (Mat 6:33).

Dalam konteks inilah Matius menempatkan “perumpamaan tentang mata sebagai pelita tubuh” (Mat 6:22-23). Jika mata memberikan terang yang mengarahkan seluruh pribadi seseorang, maka iman akan ajaran Yesus tentang rasa percaya, dan ketidaklekatan akan hal-hal duniawi,  akan memenuhi diri seorang murid dengan terang dan panduan-panduan untuk segala tindakannya. Tanpa ini semua berarti sang “murid” berjalan sambil meraba-raba dalam sebuah dunia kegelapan.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat mengenal diriku sendiri, untuk mempunyai mata yang baik dan menjadi anak-anak Bapa surgawi yang senantiasa taat kepada kepada kehendak-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH MENGUMPULKAN HARTA DI BUMI” (bacaan tanggal 19-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 16 Juni 2015 [Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk-Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS