KOMITMEN KRISTIANI ITU SERIUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 15 Juni 2015) 

ONPAGE-2

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42) 

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Tujuan hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecut ganti lecut, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak” (Kel 21:24; bdk.  Im 24:20; Ul 19:21) adalah untuk membatasi kekerasan dan pertumpahan darah melalui rasa takut akan pembalasan. Hukum ini juga dimaksudkan untuk membatasi tindakan pembalasan agar tetap seimbang (hanya satu mata ganti satu mata), melawan program pembalasan tanpa batas dari Lamekh (Kej 4:23-24), yang begitu sering diulang-ulang bahkan dalam dunia modern.

Mahatma Gandhi, yang hidup dan mati berjuang untuk mendamaikan faksi-faksi yang saling bermusuhan di tanah airnya – suka sekali mengutip sabda Yesus dan mengungkapkannya kembali sebagai berikut: “Jika kita semua hidup menurut prinsip mata-ganti-mata, maka dengan cepat seluruh dunia akan menjadi buta.” Di sini Yesus kembali mencabut hukum lama – tidak ada pembalasan sama sekali! Yesus hanya mengenal “pembalasan kejahatan dengan kebaikan”: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi yang berbuat jahat terhadap kamu” (lihat Luk 6:27-28).

Bagaimana kiranya Yesus mengharapkan para murid-Nya untuk hidup dengan cara begini dalam dunia nyata? Menurut John P. Meier dalam bukunya yang berjudul Matthew, apa yang dilakukan oleh Yesus dalam “Khotbah di Bukit” bukanlah mempresentasikan sebuah program baru untuk masyarakat manusia, melainkan Dia mengumumkan akhir dari masyarakat manusia itu. Inilah yang dinamakan “moralitas eskatologis” (eschatological morality). Ini hanya mungkin terwujud dalam diri para murid yang melalui Yesus sudah menghayati hidup pada akhir zaman (hal. 54).

Mengingat kasus-kasus pidofilia yang banyak diberitakan akhir-akhir ini, apakah artinya yang disebutkan di atas bagi orangtua korban – dalam rangka membela hak-hak dan keamanan masa depan anaknya – yang tidak mempunyai alternatif lain kecuali mengadukan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib agar pada akhirnya menyeret orang jahat bersangkutan ke depan pengadilan? Agar supaya membuat sabda Yesus itu hidup, maka kita harus menyadari bahwa:

Pertama-tama, sabda Yesus ini berkaitan dengan personal injury dan bukan dengan hak-hak orang-orang lain. Seseorang dapat memilih untuk memberi pipi yang satunya lagi apabila dengan demikian tidak ada seorang lain pun akan menderita kerugian. Akan tetapi, jika dengan melakukannya dia mengakibatkan kerugian pada pihak yang tidak bersalah, maka hal ini adalah parodi/karikatur dari “kasih tanpa kepentingan” yang diajarkan Yesus agar seseorang tidak melakukan sesuatu walaupun seseorang dapat melakukannya.

Kedua, semangat batiniah untuk tidak melakukan kekerasan dan memberi pipi lainnya selalu mungkin. Bilamana seseorang melakukan ketidakadilan atas diri saya, maka secara moral hal itu bukanlah masalah saya, melainkan masalah dia sendiri. Untuk menyerahkan diri kepada penolakan, kebencian, hasrat untuk membuat pihak lain membayar dan membayar lebih, untuk apa yang telah dilakukannya, untuk mengeraskan hati saya seakan sebuah kepalan tangan yang keras sehingga siap untuk berkelahi, itu semua menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Apabila saya tidak dapat mengampuni, barangkali paling sedikit saya dapat menyadari bahwa pihak lain itu membutuhkan penyembuhan, dan saya – jika saya adalah sungguh seorang murid Yesus yang sejati – dapat berdoa agar pihak lain itu agar mengalami penyembuhan termaksud.

Yang diberikan Yesus adalah substitut dari sistem hukum yang lama dan bukanlah suatu sistem yang baru. Menurut seorang ahli tafsir Kitab Suci semua itu adalah gejala-gejala, tanda-tanda, contoh-contoh dari apa artinya jika Kerajaan Allah menerobos masuk ke  tengah dunia yang masih berada di bawah pengaruh dosa, maut dan Iblis. Contoh-contoh konkret yang diberikan oleh Yesus menggambarkan betapa serius makna komitmen Kristiani itu dan betapa mendalam perubahan yang akan terjadi dalam kehidupan seorang murid Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami memperbaiki dan memperdalam komitmen pembaptisan kami. Buatlah agar hidup kami sebagai tanda-tanda hidup baru dari Kerajaan Allah. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI AKU BERKATA KEPADAMU ……” (bacaan tanggal 15-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 12 Juni 2015 [HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS