DUNIA MENANTIKAN KESAKSIAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Hati Tersuci SP Maria dan Peringatan S. Antonius dr Padua – Sabtu, 13 Juni 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja 

sermon_on_the_mount_carl_bloch-e1296500203637

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Apakah anda pernah bertanya kepada seseorang dan merasa bahwa anda tidak memperoleh sebuah jawaban yang langsung, yang straight to the point? Barangkali orang itu menjadi defensif dan bahkan mulai “bersumpah” bahwa dia mengatakan yang sebenarnya kepada anda, namun anda tetapi tidak yakin. Sebuah contoh yang baik adalah penyangkalan Petrus bahwa dia mengenal Yesus. Ketika kepadanya ditanyakan apakah dia adalah murid Yesus, dia mengatakan, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Akhirnya Petrus melarikan diri dari tekanan di sekeliling dirinya, namun dengan sebuah kebohongan: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” (Mrk14:66-72).

Mengapa untuk menjadi benar itu dapat menjadi begitu susah bagi kita? Apakah karena kita takut atau merasa tidak aman? Apakah karena kita terlalu sombong untuk menerima bahwa diri kita dapat saja salah? Atau barangkali karena kadang-kadang terasa sulit untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari kebenaran. Sebagai kontras terhadap penyangkalan Petrus adalah tanggapan Yesus ketika kepada-Nya ditanyakan apakah diri-Nya adalah sang Mesias, Yesus secara sederhana menjawab, “Akulah Dia” (Mrk 14:62), Dengan menjawab jujur seperti itu, sebenarnya Yesus memberi “izin” atas hukuman mati yang akan dijatuhkan atas diri-Nya. Rasa takut tidak menguasai diri Yesus karena Dia menempatkan diri-Nya dalam tangan-tangan penuh kasih dari Bapa dan mengetahui bahwa sabda Allah tidak pernah dapat ditentang.

Pada Perjamuan Terakhir, Petrus mengatakan bahwa dirinya siap mati untuk Yesus, namun semangat berapi-api gaya “bonek” dan entusiasme yang ada dalam dirinya cepat menyusut ketika Dia melihat betapa dengan “lembek” Yesus menyerahkan diri-Nya kepada para lawan yang hendak menangkap-Nya. Petrus menemukan kebenaran yang menyedihkan bahwa dia tidak dapat mengikuti Yesus ke kayu salib hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hanya setelah Pentakosta Kristiani yang pertama Petrus menerima kuat-kuasa Roh Kudus dan mulai berkhotbah mewartakan Injil dengan penuh keberanian – bahkan di bawah ancaman hukuman dan kematian.

Selagi kita menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus, kita pun dapat menguasai hidup emosional kita dan mengalami suatu keutuhan dan integritas yang dapat dikatakan bersifat ilahi. Realitas surga, janji-janji dari Allah yang Mahasetia, dan suatu rasa takut (yang sehat) terhadap dosa akan bekerja sama guna membentuk dalam diri kita komitmen sederhana terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Yesus. Marilah kita melanjutkan memohon kepada Roh Kudus untuk membentuk diri kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Sesungguhnya, dunia menantikan kesaksian kita.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “YA ATAU TIDAK” (bacaan tanggal 13-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-6-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 9 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS