JANGANLAH KITA MEMBUAT KESALAHAN YANG SAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir

 – Rabu, 3 Juni 2015) 

Copping_The-question-of-the-Sadducees_SMALLKemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan  itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27) 

Bacaan Pertama: Tb 3:1-11a,16-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:2-9 

Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan dari alam maut. Ketika mereka mendatangi Yesus dengan pertanyaan mereka, sebenarnya hal tersebut bukanlah datang dari hasrat yang tulus untuk belajar tentang kebangkitan atau untuk mengubah pendapat mereka sendiri. Sebaliknya, mereka  berharap dapat mendiskreditkan Yesus di depan orang banyak. Yesus mengetahui benar isi hati mereka yang busuk itu, namun Ia mengambil waktu untuk menjawab pertanyaan orang-orang Saduki itu dengan cara yang mudah dimengerti, dengan harapan mereka akan berbalik dan menjadi percaya.

Kitab Suci satu-satunya yang dipercayai oleh orang-orang Saduki adalah Kitab Taurat (lima kitab pertama dalam Kitab Suci). Oleh karena itu Yesus menanggapi pertanyaan mereka berdasarkan ajaran yang terdapat dalam Kitab Taurat. Yesus mengutip sabda Allah kepada Musa yang tercatat dalam Kitab Keluaran: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Jelaslah bahwa Allah di sini berbicara tentang orang-orang ini seakan masih ada/hidup, dan seakan Dia adalah tetap Allah mereka, artinya bahwa mereka masih hidup setelah kematian mereka.

Orang-orang Saduki telah gagal memahami sepenuhnya suatu misteri yang tersembunyi dalam inti terdalam Kitab Taurat. Perjanjian Allah dengan umat-Nya menjanjikan kehidupan, dan Ia adalah mahasetia, sehingga pasti setia dalam pemenuhan janji-janji yang dibuat-Nya. Jikalau maut dapat menghancurkan orang-orang yang hidup dalam perjanjian dengan Allah, maka di manakah kuasa Allah itu? Allah tidak memperkenankan kematian/maut menjadi “jawaban terakhir”. Oleh karena itu Allah merancang suatu rencana yang penuh kekuatan bagi umat manusia, rencana yang menyatakan kedalaman hikmat dan belas-kasih-Nya. Dengan mengutus Putera-Nya sebagai kurban demi pengampunan dosa umat manusia, Allah membuka jalan bagi orang-orang untuk menerima warisan yang telah dijanjikan.

Walaupun orang-orang Saduki membaca Kitab Suci dengan teliti, mata (hati) mereka dibutakan, sehingga mereka tidak mampu mempersepsikan kehidupan sebagaimana yang dimaksudkan dan disampaikan oleh Kitab Suci. Hati mereka tertutup terhadap pernyataan kasih Allah yang tersedia bagi mereka melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci.

Apakah yang dapat kita pelajari dari bacaan Injil hari? Janganlah kita sampai “bernasib” seperti orang-orang Saduki atau membuat kesalahan yang sama. Oleh karena itu, marilah kita menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, dengan keterbukaan bagi pernyataan diri Allah kepada kita. Semoga kita tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa upaya mencari sentuhan pribadi dari Allah yang hidup! Dengan demikian kita akan diberdayakan untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang diambil kembali dari alam maut ke dalam kehidupan.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hati dan pikiranku hari ini, sehingga dengan demikian isi Kitab Suci menjadi hidup bagi dan dalam diriku. Teguhkanlah pengharapanku akan kehidupan kekal yang telah disiapkan Allah bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Tob 3:1-11a,16-17a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA TOBIT DAN DOA SARA” (bacaan tanggal 3-6-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-06 BACAAN HARIAN JUNI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 1 Juni 2015 [Peringatan S. Yustinus, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS