KEMULIAAN KEPADA BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS – Minggu, 31 Mei 2015)

Trinity_One_God_Wallpaper_1600x1200_wallpaperhere

Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-34,39-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-6,9,18-20,22; Bacaan Kedua: Rm 8:14-17

Kita telah dibaptis dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Sekarang kita menikmati suatu relasi personal dengan sang Pencipta, Penebus dan Dia yang menguduskan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa baptisan harus dilaksanakan dalam nama Bapa dan Putera (Anak) dan Roh Kudus. Kita memberikan nama sebuah jalanan, perkumpulan, lembaga pendidikan, rumah sakit atau lembaga sosial lainnya menurut nama seorang patriot bangsa atau orang kudus, karena orang yang dimaksud merupakan tokoh inspirasional untuk kita kenang dan contoh teladan hidupnya. Di sisi lain kita harus mencoba untuk menghargai pentingnya arti nama yang diberikan oleh Kitab Suci. Sebuah nama dalam Kitab Suci bukanlah sekadar untuk dikenang. Dalam sebuah nama terdapat kehadiran seorang pribadi dan bagian dari segala hal yang diperjuangkan pribadi tersebut.

Dalam Kitab Suci, nama seorang pribadi mengingatkan kita akan kehidupan dan kehadiran aktif pribadi tersebut. Dalam baptisan kita dibentuk ke dalam suatu relasi yang vital dan dinamis dengan Allah sebagai Pencipta kita, Penebus kita dan Pengudus kita. Dalam nama ketiga Pribadi Ilahi terdapat kehadiran dan kuasa ketiga Pribadi tersebut.

Teologi telah dengan indahnya digambarkan sebagai suatu seni yang mampu mendengar cerita-cerita mengenai Allah dan kemudian menceritakannya kembali kepada orang-orang lain. Dan apa pula yang dimaksudkan dengan doa? Doa adalah jika kita mengetahui bahwa kita merupakan bagian dari cerita-cerita tentang Allah itu.

Tritunggal Mahakudus adalah cerita mengenai tiga gerakan Allah menuju diri kita. Pertama-tama adalah gerakan kehidupan dari pikiran Allah, Bapa segala ciptaan. Manakala setiap hari Allah memandang segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya, maka Dia pun melihat bahwa semuanya itu baik (lihat Kej 1:10,24).

Namun sayangnya, manusia menyalahgunakan kehendak bebas yang telah dianugerahkan Allah; mereka menjual hak yang diterima sejak lahir, dan menjadi budak dosa. Manusia perlu diselamatkan dari perbudakan ini. Dengan demikian, gerakan kedua Allah menuju kita adalah mengutus seorang Penebus, seorang Juruselamat. Tidak ada lagi dalam Kitab Suci yang lebih indah mengungkapkan hal ini daripada dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus pada suatu malam hari: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Sang Putera Allah mengambil kondisi kemanusiaan kita agar dapat sepenuhnya memasuki dan terlibat dalam naik-turunnya kehidupan kita manusia, proses pemikiran manusia, emosi-emosi manusia, berbagai kekuatan dan kerentanan kita sebagai manusia … pokoknya ke dalam segala segi kemanusiaan kecuali dosa (lihat Ibr 4:15). Ia datang sebagai seorang Saudara yang merangkul kita semua tanpa diskriminasi. Sebagai seorang Juruselamat, Ia memimpin kita keluar dari perbudakan (dosa) kepada kebebasan. Sebagai Sabda Allah, Dia membawa bagi kita terang iman. Sebagai Kepala dari Tubuh-Nya (Gereja), ke mana Dia telah pergi, ke sana pula kita berharap akan mengikuti-Nya. Dan dasar dari pengharapan kita adalah gerakan ketiga Allah bagi kita …… karunia Roh Kudus.

Roh Kudus itu bagaikan nafas yang senantiasa kembali ke dunia sekeliling kita: kuasa cintakasih yang menarik kepada persatuan, kuasa Allah yang menarik Yesus Kristus dari alam maut ke dalam kemuliaan. Dan karena tubuh Yesus yang dimuliakan tidak lagi terbatas dalam batasan-batasan fisik, maka sekarang Roh Kudus diruahkan atas semua orang yang percaya.

Teologi berkaitan dengan Allah Tritunggal Mahakudus bercerita tentang Allah yang mendatangi kita manusia sebagai ‘seorang’ Bapa-Pencipta, sebagai Putera-Penebus dan sebagai Roh-Pengudus. Doa adalah manakala kita mengetahui bahwa kita adalah bagian dari cerita itu: bilamana kita tertangkap dalam upaya menanggapi gerakan-gerakan Allah …… ketika kita merupakan pasangan-pasangan dalam tarian Allah.

Dalam bacaan kedua (Rm 8:14-17), Santo Paulus menggambarkan apa yang dimaksudkan dengan menari dengan gerakan-gerakan Allah.

Untuk digerakkan oleh Roh Kudus, seseorang mengetahui bahwa dirinhya dibangkitkan ke dalam hidup baru, yang lebih tinggi dari hidup alami, sebagai seorang anak Allah. Kita tidak lagi takut kepada Allah dan menghindarkan diri dari pandangan-Nya. Kita tidak lagi ingin bersembunyi dari pandangan Allah dan kesenangan kita adalah untuk berada lebih dekat dengan Allah …… anak-anak yang berlari-lari mendekati Bapa surgawi. Kata hakiki dalam doa Kristiani adalah “Abba, Bapa.”

Doa adalah kasih kepada Allah Bapa yang diungkapkan dalam kata-kata dan keluh-kesah dan penantian. Doa juga merupakan puji-pujian dan pengungkapan terima kasih penuh syukur. Puji-pujian kepada sang Pemberi dan terima kasih untuk segala karunia yang diberikan-Nya. Arah yang benar dari puji-pujian datang dari Roh yang bergerak dalam diri kita, melalui sang Putera dan menuju Bapa. Ingat doksologi dalam Misa: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepada-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa. Amin.” Surga akan menjadi penyelesaian baptisan kita. Sebelum mencapai surga kita adalah para pewaris Allah yang mempunyai hak masuk surga walaupun kita masih menanti-nanti. Sementara kita menunggu di atas bumi ini kita masin dapat mengalami berbagai penderitaan, ketegangan dan kontradiksi. Namun pengalaman-pengalaman ini pun tidak menjauhkan kita dari kehadiran Allah. Dalam “salib-salib kehidupan” ini akan berjumpa dengan Kristus yang tergantung pada kayu salib …… “menjadi pewaris bersama Kristus, ikut ambil bagian dalam penderitaan-penderitaan-Nya dan juga kemuliaan-Nya.”

Kita telah dibaptis ke dalam …… dibenamkan ke dalam …… nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam sakramen rekonsiliasi dosa-dosa kita diampuni dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus. Pada akhir Misa kita juga diutus dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus.

“Dalam nama” ada kehadiran dan kuasa dari Dia yang memiliki nama itu. Allah senantiasa hadir bagi kita dengan kuasa seorang Bapa, Sabda yang menebus dan kasih yang menguduskan. Dalam doa kita memberi tanggapan terhadap gerakan-gerakan ini.

DOA: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEMULIAAN KEPADA ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS” (bacaan tanggal 31-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

(Tulisan ini adalah saduran dari tulisan Pater Sylvester O’Flynn OFMCap., IN THE NAME OF THE BLESSED TRINITY, dalam THE GOOD NEWS OF MARK’S YEAR, Dublin, Ireland: The Columba Press, 1993 Reprinting, pages 133-135. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 28 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS