DALAM YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 30 Mei 2015)

Ordo Santa Klara (OSC & OSCCap.) – Peringatan B. Baptista Varani, Perawan-Biarawati Ordo II 

SIRAKH - Fugger_Ehrenbuch_001

Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan.

Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku.

Di depan Bait Allah telah kupohonkan dan sampai akhir hidup akan kukejar.

Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus, dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya.

Hanya sedikit saja kupasang telingaku, lalu mendapatinya, dan memperoleh banyak pengajaran bagi diriku.

Aku maju di dalamnya dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku.

Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan.

Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke surga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia.

Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati telah kutemukan.

Sejak awal mula kuikatkan hatiku padanya, dan karenanya aku tidak ditinggalkan. (Sir 51:12-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11; Bacaan Injil: Mrk 11:27-33

Sirakh memberikan kepada kita suatu perspektif yang indah tentang bagaimana mencari kebenaran Allah – dia rendah hati, menaruh kepercayaan, menaruh hormat, dan lapar akan kebijaksanaan dan rahmat. Para imam kepala dan ahli Taurat pada zaman Yesus justru menunjukkan kepada kita sikap yang benar-benar kebalikannya (lihat Mrk 11:27-33). Mereka banyak menuntut, merasa curiga dan menuduh, senantiasa mencari-cari bukti lanjutan tentang keilahian Yesus. Sirakh mencerminkan rasa percaya dan pengharapan, sedangkan para imam kepala dan ahli Taurat mencerminkan ketidakpercayaan dan rasa takut. Sementara tentunya kita lebih suka untuk mengidentifikasikan diri kita dengan Sirakh, kehidupan doa kita kadang-kadang menunjukkan keraguan dan kegelisahan.

Hati kita mencerminkan Sirakh bilamana waktu-waktu doa kita ditandai dengan penyembahan, suatu pencaharian akan kebijaksanaan (hikmat) Allah, dan hati penuh tobat yang dipenuhi dengan pengharapan dan rasa terima kasih penuh syukur. Hati kita mencerminkan para imam kepala dan ahli Taurat bilamana kita terus berkeluh kesah tentang pencobaan-pencobaan yang kita alami dan dengan marah menuntut dari Tuhan alasan-alasan dari penderitaan-penderitaan kita. Dalam kondisi seperti ini, bukannya berupaya untuk melakukan kehendak-Nya, kita malah menuntut Allah untuk melakukan kehendak kita. Pada saat-saat seperti ini, kita malah dapat menyelesaikan doa kita dengan lebih banyak pertanyaan daripada memperoleh jawaban-jawaban.

Allah menyatakan/mengungkapkan disposisi-disposisi mendalam kita dengan menguji kita dalam berbagai situasi, teristimewa dalam doa kita. Ketika kita berjuang untuk berdoa, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri dengan otoritas siapa kita sedang mencoba untuk mendekati Allah? Apakah berdasarkan performa/kinerja kita sendiri, atau berdasarkan kebaikan-kebaikan dari kematian dan kebangkitan Yesus? Orang-orang yang telah berhenti mencoba membuktikan kepantasan mereka di hadapan Allah dan kemudian menerima belas kasih dan cintakasih tanpa syarat yang berlimpah-limpah akan mengalami keintiman dengan Allah yang jauh melampaui ekspektasi manusiawi kita. Hati mereka mengalami kedamaian dan nurani mereka pun menjadi jernih.

Dalam Yesus Kristus, kita telah dibebaskan dari roh ketakutan dan menerima Roh  yang menjadikan kita anak-anak Allah (bdk. Rm 8:15). Sekarang, melalui iman yang semakin dalam kepada Yesus, kita dapat mengenal Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita. Kita dapat belajar untuk memberi lebih lagi dari hati kita kepada-Nya dan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Dia akan memperhatikan segala kebutuhan kita. Seperti Sirakh, doa-doa kita akan naik ke surga dan menurunkan berkat-berkat kepada kita yang menjadi milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau yang maha-mengetahui. Aku percaya bahwa apa pun yang terjadi pada hari ini, Engkau akan berkemenangan. Aku tidak dapat menyelamatkan diriku sendiri, namun percaya sepenuhnya bahwa Engkau mampu menyelamatkanku. Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKAN AKU JAWABNYA!” (bacaan tanggal 30-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

(Tulisan ini adalah rcvisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 27 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements