RUMAH DOA BAGI SEGALA BANGSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Jumat, 29 Mei 2015)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Maria Anna dr Paredes, Perawan Ordo III 

YESUS MEMBERSIHKAN BAIT ALLAH

Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia menemukan sesuatu pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Kata-Nya kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!”  Murid-murid-Nya pun mendengarnya.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka mencari jalan untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, karena seluruh orang banyak takjub kepada pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.

Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Lalu teringatlah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.” [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.] (Mrk 11:11-26) 

Bacaan Pertama: Sir 44:1,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6 

Kenyataan bahwa Yesus mengusir orang-orang yang berjual-beli di halaman Bait Allah tidak akan dapat dipahami secara benar apabila kita memandangnya hanya sebagai suatu penolakan terhadap praktek jual-beli di tempat yang kudus itu. Sebenarnya kegiatan-kegiatan seperti itu cukup terkendali di bawah pengawasan otoritas keagamaan di Israel pada waktu itu. Pada umumnya yang ditoleransi hanyalah transaksi-transaksi yang menyangkut jual-beli benda/hewan yang diperlukan untuk melakukan rituale persembahan kurban. Kita hanya memahami peristiwa itu dengan lebih baik jika kita mengingat ayat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama berikut ini: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Yes 56:17; Mrk 11:17).

Tindakan Yesus mengindikasikan penghakiman Allah terhadap setiap dan semua penyalahgunaan Bait Allah. Yesus dalam hal ini kelihatan menunjuk kepada suatu kegagalan di pihak para imam Yahudi untuk menginstruksikan umat tentang makna ibadat-penyembahan di Bait Allah.

Petikan dari Kitab Yesaya di atas juga sangat signifikan, bahwa Rumah-Nya adalah rumah doa bagi segala bangsa, bukan hanya bagi bangsa terpilih, yaitu bangsa Israel. Ini adalah nubuatan mesianis yang memandang orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) juga mempunyai tempat dalam Bait Allah.

Kebanyakan dari kita adalah orang-orang bukan Yahudi. Kepada kita telah diberikan tempat dalam Bait Allah. Rumah doa telah menjadi rumah kita juga, rumah doa kita. Di tempat itu kita akan merasa at home bersama Bapa surgawi – Bapa kita semua. Kita akan seperti anak-anak yang duduk dalam kehangatan rumah kita di sekeliling Bapa kita yang sungguh sangat mengasihi kita.

Namun demikian, privilese ini “menuntut” sesuatu dari kita seperti dengan jelas diindikasikan oleh Yesus dalam Injil. Apabila kita tidak menghormati (menaruh respek) kekudusan rumah doa kita, apabila kita memperlakukannya sebagai “sarang penyamun” (lihat Mrk 11:17; Yer 7:11), artinya sebuah tempat yang duniawi, sebuah tempat di mana orang-orang menikmati desas-desus sebagai makanan sehari-hari, sebuah tempat orang tidur dan bermimpi di siang hari dll.; maka kita pantas untuk tidak dapat menikmat kehangatan rumah Allah.

Gereja-gereja kita adalah rumah-rumah doa, tempat-tempat untuk bercakap-cakap – untuk berkomunikasi – dengan Allah, Bapa kita, dengan Kristus, Saudara dan Juruselamat kita; tempat-tempat untuk kita secara bersama-sama (berjemaah; secara komunal) bersembah-bakti kepada Bapa surgawi dalam persatuan dengan Kristus. Semua ini dapat dilakukan dengan cara yang sangat “santai” dan hangat tanpa mengurangi atau menghilangkan rasa hormat yang pantas diberikan kepada tempat-tempat itu sebagai Rumah Allah.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kami dapat merasa di rumah sendiri dalam Rumah-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:11-26), bacalah tulisan yang berjudul “KERAGU-RAGUAN MENANTANG IMAN KITA” (bacaan tanggal 29-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS