MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII, Selasa 1-3-11) 

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETLalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

“Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat …… , dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (Mrk 10:29-30).

Apakah kita sungguh dapat menerima kata-kata Yesus ini secara harfiah? Apabila kita bertekad untuk mengikuti Beato Charles de Foucauld [1858-1916], seorang Perancis yang berkiprah di Afrika Utara, maka jawabannya adalah “YA” tanpa syarat. Bagi Charles, mewujudkan ayat-ayat ini adalah suatu pengalaman terus-menerus dalam upayanya menemukan hidup dalam Kristus.

charles-de-foucauld-1Bertahun-tahun lamanya Charles berprofesi sebagai seorang perwira tentara Perancis yang acuh tak acuh terhadap agama. Dalam hati dan pikirannya yang ada hanyalah pengejaran kenikmatan badani, kekayaan dan ketenaran. Namun jalan Tuhan memang tidak pernah dapat ditebak. Suatu pertobatan yang penuh kuasa dialaminya ……. setelah melihat ketekunan berdoa orang-orang Badui Muslim (Badui = yang suka berpindah-pindah tempat) di Maroko. Pertobatannya ini memimpin Charles untuk membuang segalanya yang duniawi dan kemudian mengikuti Kristus, praktis secara harfiah. Pertama-tama dia menjadi seorang rahib Trappis agar dapat hidup dalam kemiskinan. Akhirnya dia menyadari bahwa para rahib Trappis pun tidak cukup miskin bagi dirinya, sehingga dengan demikian dia lalu meninggalkan biara Trappis dan menjadi seorang pertapa di Nazaret dan kemudian Siria, lalu pulang dan belajar teologi.

Pada tahun 1901 Charles ditahbiskan sebagai seorang imam. Setelah ditahbiskan dia tinggal di  pos tentara (kolonial/Legiun Asing) Perancis yang terletak jauh di perbatasan gurun Sahara di tengah-tengah suku-suku Berber di Aljazair. Namun Charles merasa masih terlalu dekat dengan tentara kolonial, sehingga dia mengasingkan diri 500 km lebih jauh dari mereka dan hidup di antara suku Tuareg serta berkawan dengan mereka di sana, di tengah gurun Sahara. Charles ingin melayani semua orang tanpa memandang apa agamanya – Kristiani atau pun Muslim. Begitu efektif karyanya, sehingga dia menerima kunjungan sekitar seratus orang setiap hari untuk dilayaninya. Dalam diri mereka Charles de Foucauld menemukan “saudari dan saudaranya” seperti dijanjikan Yesus.

charles-de-foucauld-abd-jesusKetika kaum Senussi menyatakan jihad, Charles dibunuh, di tengah-tengah gurun Sahara. Dia mengalami penderitaan karena dianiaya, tidak hanya oleh orang-orang Muslim, melainkan juga oleh orang-orang Kristiani yang memandang dia seorang yang terlalu radikal. Namun penganiayaan ini kelihatan tidak seberapa bagi Charles apabila dibandingkan dengan buah-buah yang dihasilkan dari kehidupan salehnya. Setelah kematiannya, tarekat yang diharapkan untuk didirikan olehnya menjadi kenyataan. Pada saat ini terdapat lebih dari 300 persaudaraan “Para saudara dan saudari kecil dari orang Miskin” yang melanjutkan karyanya. Carlo Carretto, seorang penulis rohani yang terkenal dan mantan aktivitis sosial Katolik, juga adalah anggota tarekat ini.

Seandainya Charles de Foucauld pada saat ini ada di tengah-tengah kita dan menjelaskan petikan bacaan di atas, maka kiranya dia akan mengatakan kepada kita untuk tidak memusatkan perhatian pada detil-detil. Kita tidak perlu bertanya apa artinya “seratus kali lipat”, atau siapakah  yang dimaksudkan dengan “saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan”. Tinggalkanlah segalanya, kemudian ikutlah Yesus, turut ambil bagian dalam kasih-Nya dan serahkanlah hasil segalanya kepada Allah! Charles de Foucauld dibeatifikasikan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 13 November 2005.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk mengikuti jejak-Mu sedekat-dekatnya sehingga aku dapat melupakan diriku sendiri. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31), bacalah tulisan yang yang berjudul “MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 26-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

Cilandak, 21 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS