MENGENAL ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 19 Juni 2015)

Keluarga Fransiskan Kapusin: S. Krispinus dr Viterbo, Biarawan [1668-1750] 

MSheets_WordofLife_710

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21 

Setelah mengatakan segala sesuatu yang ingin dikatakan-Nya kepada para murid-Nya, Yesus kemudian berdoa kepada Bapa-Nya. Doa syafaat yang didoakan-Nya terdengar sebagai semacam surat wasiat, …… sebuah warisan. Doa ini dihaturkan oleh Yesus kepada Bapa-Nya hanya beberapa waktu sebelum Ia ditangkap dan menderita sengsara. Kata-kata yang digunakan Yesus dalam doa ini mengungkapkan isi hati Yesus yang terdalam – kasih-Nya kepada Bapa-Nya di surga yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun, dan hasrat-Nya untuk membagikan kasih ini dengan semua umat-Nya. Inilah kiranya apa yang dimaksudkan dengan “mengenal” Allah (Yoh 17:3).

Ketika kita mengenal seseorang secara akrab, maka kita mengenal orang itu lebih daripada sekadar namanya dan berbagai statistik pribadinya. Kita berbicara dengan orang itu, kita bekerja bersama dengan dia, dan malah kita menikmati saat-saat rileks bersama dengannya; saling berjumpa, baik dalam situasi-situasi suka maupun duka, sedikit demi sedikit sampai kepada penghargaan atas kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang unik. Kita pun kemudian dapat menjalin relasi yang lebih mendalam lagi dan menjadi sahabatnya.

ROHHULKUDUSDemikian pula halnya dengan Allah. Kita hidup dalam zaman setelah kenaikan Yesus ke surga, dengan demikian kita dapat menikmati berkat dari relasi persahabatan yang akrab dengan Allah seturut apa yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada kita. Pada kenyataannya ini adalah hasrat Allah yang terbesar, yaitu bahwa kita mengenal diri-Nya secara pribadi. Inilah alasannya mengapa Dia mengutus Putera-Nya terkasih, Yesus Kristus, guna menebus kita.  Pada hari ini kita dapat berjalan dengan martabat sebagai anak-anak dari Bapa surgawi (Yoh 1:12). Dan, Yesus sendiri pun tidak malu untuk memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya (lihat Ibr 2:11).

Kita sampai kepada pengenalan akan Allah karena Roh Kudus menyatakan-Nya kepada kita. Apakah hal ini merupakan suatu pernyataan yang berproses secara gradual/bertahap, atau suatu pengalaman pertobatan penuh kuasa dari “kegelapan-ke-terang” sebagaimana dialami oleh Saulus dalam perjalanan menuju Damsyik (lihat Kis 9:1 dsj.), hasilnya adalah bahwa kita mengalami kasih Allah dalam hati kita dan menyadari tanpa ragu-ragu lagi bahwa kita adalah sungguh anak-anak Allah.  Allah begitu berkeinginan agar kita mengenal diri-Nya sehingga Dia pun memberikan banyak cara/jalan bagi kita untuk berjumpa dengan diri-Nya.

Kita dapat melihat “tangan-tangan” Allah bekerja dalam sejarah umat manusia. Dia berbicara kepada kita melalui Kitab Suci dan melalui ajaran Gereja, dan Dia senantiasa menopang kehidupan umat-Nya dari masa ke masa. Dalam berbagai sakramen, kita berjumpa dengan-Nya melalui tanda-tanda dan liturgi. Dalam doa-doa pribadi, kita pun dapat sampai kepada pengalaman akan kasih-Nya dengan cara/jalan yang akrab dan istimewa. Dengan segala cara/jalan ini, kita dapat mengenal Allah dengan akrab, sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Santo Augustinus dari Hippo mengalami kasih-Nya, demikian pula halnya dengan Santo Fransiskus dari Assisi dan Santa Klara dari Assisi, semua dengan jalan/cara yang khas. Santo Ignatius dari Loyola mempunyai pengalaman juga, dan banyak umat “biasa” pun mempunyai pengalaman akan kasih Allah. Allah memang sangat merindukan agar kita mengenal-Nya dan mengalami kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, selagi kami menantikan saat pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, buatlah kami agar dapat mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “BAGIAN DARI DOA IMAM BESAR AGUNG” (bacaan tanggal 19-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:17-27), bacalah tulisan berjudul “PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS” (bacaan tanggal 3-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 14 Mei 2015 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS