MENGALAMI ROH KUDUS, SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 12 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin [+1942]

 magataganm_20120210015513

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Ketika Yesus mempersiapkan para murid-Nya dalam rangka kematian-Nya, Dia berbicara mengenai sang Penolong, “seorang” Penasihat/Advokat (Yunani: parakletos), yaitu Roh Kudus. Yesus mengetahui benar kondisi hati para murid-Nya; susah hati, galau, sedih. Namun Yesus menginginkan mereka agar menyadari bahwa jauh lebih baiklah bila diri-Nya pergi, karena dengan demikianlah Roh Kudus dapat dicurahkan ke dalam diri para murid-Nya.

Para murid sebenarnya telah memiliki Yesus, namun mereka belum mengalami Roh Kudus. Oleh karena itu dapat dimengerti apabila mereka merasa takut. Siapakah di antara kita yang merasa senang membiarkan hari ini, yang kita ketahui dengan baik, untuk ditukar dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian? Betapa mudahnya memang bagi kita untuk menjadi takut menghadapi prospek melepaskan sesuatu yang sudah familiar, yang sudah jelas-jelas aman, dan memperkenankan pertumbuhan dan perubahan mengambil tempat dalam kehidupan kita. Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh Yesus sendiri? Yesus menghendaki agar kita menyerahkan kepada-Nya pengendalian/kontrol atas hidup kita, sehingga dengan demikian Ia dapat membawa suatu pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita, suatu pekerjaan yang bersifat tranformatif, …… yang mengubah diri kita.

Baik tua maupun muda, kita semua menghadapi saat-saat perubahan, dan saat-saat ini dapat menjadi exciting dan “menakutkan”. Bayangkanlah seorang muda yang akan  meninggalkan rumahnya untuk pertama kalinya, barangkali untuk mulai bekerja di sebuah kota besar yang tidak pernah dikenal sebelumnya; atau untuk masuk ke perguruan tinggi jauh dari tempat asalnya dan tinggal di rumah kos-kosan. Orang muda itu dapat memandang ke depan dengan antisipasi akan suatu independensi sampai derajat tertentu, namun tentunya dia pun merasa khawatir tidak dapat mengatasi rasa ketidakpastian yang menimpa, teristimewa pada awal-awalnya. Bayangkanlah juga seorang ibu muda yang pulang ke rumahnya dari rumah sakit  dengan seorang bayi yang baru dilahirkannya. Tentu dia bersukacita karena ada kehidupan baru yang sedang dipeluknya dengan penuh kasih sayang, yaitu bayinya, namun pada saat sama ada perasaan seakan tak berdaya bila memikirkan bahwa sekarang dirinya juga bertanggung jawab atas untuk merawat dan menjaga kehidupan sang bayi.

Namun baiklah kita catat, bahwa hanya perubahan-perubahan besar dalam kehidupan kita yang mempengaruhi diri kita seperti digambarkan di atas. Kita dapat juga mempunyai perasaan mendua terkait “untung-rugi yang berskala lebih kecil” dalam situasi-situasi yang kita hadapi sehari-hari. Pada saat-saat seperti itu Allah mengundang kita untuk berbalik kepada-Nya, untuk mengakui dan menerima kasih-Nya yang sangat otentik terhadap kehidupan kita, serta memohon suatu pencurahan baru dari Roh Kudus-Nya. Allah tidak menginginkan kita untuk melalui proses perubahan dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu Allah memberikan Roh Kudus-Nya. Dengan demikian, marilah kita memohon kepada Allah menolong kita agar dapat mengatasi segala perubahan yang kita hadapi. Marilah kita menaruh hidup kita di hadapan-Nya, dengan penuh kepercayaan bahwa Dia senantiasa setia dan akan selalu menjawab segala permohonan berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, dengan rendah hati aku memohon kepenuhan hidup yang Engkau berikan melalui Roh Kudus-Mu. Aku berikan kepada-Mu seluruh masa depanku. Aku tidak menahan-nahan apa pun untuk diriku sendiri. Aku bahkan menaruh kematianku sendiri dalam tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 12-5-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS