PENGALAMAN PRIBADI AKAN ALLAH (YESUS)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 23 April 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Egidius dr Assisi, Biarawan

YESUS DAN ANAK-ANAK - MENGASIHI ANAK-ANAKTidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Setiap orang, yang telah mendengar dan belajar dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:44-51) 

Bacaan Pertama: Kis 8:26-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9.16-17,20

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh  4:51).

Mengapa Yesus berkata demikian? Karena kita perlu pengalaman akan Allah dan akan Yesus. Pengalaman mempunyai peranan hakiki dalam kehidupan manusia. Kita belajar sebagian besar lewat pengalaman.

Samuel ClemensAda seorang penulis Amerika Serikat yang bernama Mark Twain (nama asli: Samuel Longhorne Clemens; 1835-1910). Pada waktu bersekolah di SR Budi Mulia, Mangga Besar dulu, saya sempat membaca dua buah bukunya yang saya pinjam dari perpustakaan paroki St. Petrus dan Paulus, Mangga Besar (masih gereja darurat), yaitu “Kisah Petualangan Tom Sawyer” dan “Kisah Petualangan Huckleberry Finn”). Mark Twain ini pernah berkata tentang pentingnya pengalaman: “Bila anak laki-lakimu yang kecil ingin membawa seekor kucing dengan memegang ekornya, maka kukatakan, biarkanlah dia! Pengalaman itu akan mengajar dia, lebih daripada mengingatkan dirinya dengan seribu kata-kata.”

Cukup sering juga dikatakan bahwa kita perlu belajar keras lewat pengalaman yang keras pula. Seringkali hal itu berupa tragedi yang kita tidak dapat perbaiki. Orang-orang yang harus belajar kejahatan “narkoba” atau “miras” lewat pengalaman yang tidak membahagiakan sebenarnya membayar harga yang terlampau tinggi. Seringkali kecanduan narkoba atau miras berakibat pada kehidupan yang hancur dan tidak pernah akan dapat diperbaiki.

Pengalaman yang baik juga merupakan cara belajar yang terdalam  dan paling efektif. Apa makna kata “hujan” bagi anda, apabila anda tidak pernah kehujanan atau sengaja bermain-main sepak bola dengan teman-teman di tengah hujan pada waktu kecil dulu? Demikian pula, apa arti kata “salju”? Walaupun sering melihat salju dalam gambar-gambar – teristimewa dalam kartu-kartu Natal – saya dan seluruh keluarga saya untuk pertama kali mengalami “turunnya salju” di salah satu tempat kecil di negara bagian New Hampshire, Amerika Serikat menjelang Natal 1975. Kami sekeluarga diajak berpiknik akhir pekan oleh mantan bawahan saya di Citibank Jakarta (orang bule Amerika) dan keluarganya, untuk menikmati suasana bahagia bersama. Pengalaman beberapa jam itu sangat berkesan di hati kami semua. Setidaknya kami sekeluarga mengalami indahnya salju yang turun dari atas sana. Sekarang, apa makna kata “cinta” bagi anda, jika anda belum/tidak pernah mengalaminya? Seandainya tidak seorang pun pernah mencintai anda, atau anda belum pernah mencintai seseorang?

Mengapa kita tidak menerapkan hal ini pada pengetahuan kita tentang Allah? Mengapa begitu banyak orang masih saja berpikir bahwa “percaya” berarti “menerima sebagai kebenaran” informasi tertentu tentang Allah? Mengapa dalam pelajaran agama, khotbah dan buku-buku rohani, terdapat begitu banyak penekanan pada aspek mengajar orang-orang “tentang” Allah? Apakah kita barangkali berpandangan bahwa kita akan menjadi umat Kristiani yang lebih baik jika kita mengetahui lebih banyak tentang Allah. Pertanyaan yang crucial dalam hal ini adalah: “Apakah anda telah mengalami Allah?” atau “Apakah anda mempunyai pengalaman akan Yesus?” Ini adalah pertanyaan yang sentral jikalau kita ingin menguji realitas iman-kepercayaan kita, karena untuk menjadi seorang Kristiani, maka kita masing-masing harus mengenal Allah secara pribadi, tidak sekadar mengetahui tentang Dia.

ST. TERESA KECILSemua orang kudus Gereja mempunyai pengalaman akan Allah (Kristus) secara pribadi. Pelajarilah, misalnya, pengalaman akan Allah/Kristus dari Santo Fransiskus dari Assisi, Santa Theresia dari Lisieux, dlsb. Namun kita semua juga dipanggil untuk menghayati (menjalani) hidup yang suci (lihat Lumen Gentium, 40)! Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa pengalaman akan Allah tidak hanya disediakan bagi para anggota hirarkhi Gereja atau para mistikus, melainkan untuk semua umat beriman. Pengalaman akan Allah harus merupakan suatu realitas yang dapat dikenali dalam kehidupan setiap orang Kristiani.

Yesus tahu benar bahwa kita perlu mengalami-Nya secara pribadi dan mendalam. Tidak akan cukup apabila kita hanya mendengar tentang Dia atau membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci. Kita harus mengalami hidup-Nya dan kasih-Nya bergerak/mengalir dalam diri kita. Inilah yang membangun iman-kepercayaan kita: pengalaman pribadi. Sentuhan pribadi dari Dia yang kita sembah sebagai Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Dengarlah TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, jangan membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku! (Mzm 27:7-9). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA ADA DI BELAKANG SETIAP TINDAKAN KEBAIKAN” (bacaan tanggal 23-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:26-40), bacalah tulisan yang berjudulROH KUDUS JUGA INGIN BEKERJA MELALUI DIRI KITA” (bacaan tanggal 8-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 17 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS