ROTI KEHIDUPAN [2]

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 21 April 2015)

220px-Tissot_The_Gathering_of_the_Manna_%28color%29Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35) 

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Sungguh aneh, bukan? Pada suatu hari Yesus memberi makan sekitar 5.000 orang laki-laki (artinya jumlah sesungguhnya jauh lebih besar kalau ditambah perempuan dan anak-anak) dengan hanya lima roti dan dua ekor ikan, dan keesokan harinya orang-orang yang sama menuntut agar dapat menyaksikan Dia membuat “tanda” sehingga mereka dapat percaya kepada-Nya. Sebagian besar dari orang banyak itu kelihatannya mengharapkan untuk memperoleh apa saja yang dapat diberikan oleh Yesus – dalam hal ini lebih banyak roti lagi. Yesus berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh 6:26). Berapa banyak dari mereka yang sungguh memahami bahwa roti yang dilipatgandakan hanyalah sebuah tanda dari suatu karunia yang jauh lebih memiliki kuat-kuasa? Perlipatgandaan roti dimaksudkan untuk menunjuk kepada Yesus, “roti yang benar dari surga” yang “memberi hidup kepada dunia” (Yoh 6:33). Pastinya, karunia roti dunia menyatakan bela rasa Yesus bagi diri orang-orang yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan fisik. Akan tetapi, Yesus ingin memberikan kepada mereka makanan yang jauh lebih bernilai, yaitu berupa roti rohani (spiritual) untuk perjalanan mereka menuju kehidupan kekal.

Allah juga membuat tanda-tanda indah dari kehadiran-Nya, kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya dengan banyak cara: dalam dunia natural, dalam relasi-relasi kita, dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap hari. Sekarang, bagaimana kita melihat berbagai anugerah ini? Apakah kita melihat anugerah-anugerah ini sebagai papan penunjuk jalan menuju kebaikan-kebaikan serta realitas-realitas yang lebih tinggi? Atau apakah kita hanya memandang anugerah-anugerah itu sebagai hal-hal yang biasa-biasa saja dan ujung-ujungnya menyusutkan signifikansi dan kuat-kuasa spiritual dari anugerah-anugerah tersebut?

6355b9ffb81f3e1ba0990eb052072551c98f2b5bPada hari ini, selagi kita masing-masing membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, marilah kita mencoba hal berikut ini. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Mengapa aku melakukan hal ini? Apakah prioritas pertama dan utamaku adalah membiarkan Kitab Suci memberi makanan rohani kepadaku, sehingga aku dapat semakin serupa dengan Yesus dan mengikut Dia menuju kehidupan kekal? Atau mungkinkah aku sekadar menginginkan agar Allah memberkati urusan-urusanku di dunia, namun tidak untuk mentransformasikan hatiku?

Kebutuhan-kebutuhan kita di dunia memang penting, namun Allah ingin membuka mata kita untuk suatu visi yang jauh lebih besar dan agung ketimbang impian dunia apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah mempunyai impian surgawi bagi kita dan bagi semua orang yang Dia ingin panggil untuk diri-Nya melalui diri kita. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh mengabaikan tujuan-tujuan Allah yang lebih tinggi, pada saat-saat kita berdoa untuk diberikan roti harian kita. Marilah kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, sang Roti Kehidupan, satu-satunya Pribadi yang dapat memuaskan setiap rasa lapar kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Roti Kehidupan. Bukalah mataku agar dapat melihat kehadiran-Mu dalam tanda-tanda di sekeliling diriku. Bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Biarlah sabda-Mu dalam Kitab Suci dan roti Ekaristi yang kumakan sungguh mengubah hatiku. Biarlah kasih-Mu yang mengalir dalam diriku menggerakkan aku untuk menghayati hidup Injili dan memimpin orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN” (bacaan tanggal 21-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 7:51-8:1a), bacalah tulisan yang berjudul  “SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA” (bacaan tanggal 10-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 16  April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS