ALLAH SANGAT BERKEINGINAN UNTUK MENGAMPUNI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 16 April 2015) 

peter-sanhedrinMereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36

“Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantungkan-Nya pada kayu salib” (Kis 5:30).

Kita dapat membayangkan bahwa setelah kematian Yesus di kayu salib kiranya Petrus seringkali merenungkan peranannya dalam peristiwa-peristiwa yang berujung pada kematian Yesus tersebut. Dalam perjamuan terakhir Petrus telah mengatakan kepada Yesus bahwa dirinya bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Yesus, namun beberapa jam kemudian ternyata dia menyangkal Yesus, …… tidak tanggung-tanggung: sebanyak tiga kali seperti dinubuatkan oleh Yesus pada perjamuan itu (lihat Luk 22:31-34,54-61), Menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya, Petrus lalu pergi ke luar dan menangis dengan sedih (Luk 22:62). Pada titik ini, Petrus dapat saja melarikan diri atau larut dan terbenam dalam dalam rasa bersalahnya, namun dia tidak melakukan hal tersebut. Sebaliknya, tidak seperti Yudas Iskariot (Mat 27:3-5; bdk. Kis 1:18-19), Petrus memilih untuk melakukan pertobatan. Ia mengakui dosa-dosanya, bertanggung-jawab untuk itu semua, dan dengan rendah hati memperkenankan Allah untuk membersihkan dirinya. Petrus tidak membela dirinya atau mencoba untuk menghindari pandangan Yesus yang dapat menembus dirinya. Sebagai akibatnya, Petrus pun mengenal dan mengalami kebebasan dan konsolasi yang sejati dari surga.

Dengan latar belakang ini, kita dapat memahami mengapa Petrus begitu bersemangat untuk berkhotbah tentang Yesus kepada orang-orang di Bait Allah (Kis 5:17-21). Karena mengalami sendiri sukacita yang disebabkan oleh pengampunan Allah, Petrus juga menginginkan agar orang-orang lain mengalami hal yang sama – bahkan mereka yang menjadi anggota-anggota Mahkamah Agama (Sanhedrin). Petrus menyadari bahwa jika orang-orang tersebut akan mengalami kebebasan seperti yang pengalamannya sendiri, maka orang-orang itu pun harus mengakui dosa-dosa mereka dan melakukan pertobatan. Seperti halnya dengan Petrus, mereka pun harus bertanggung-jawab atas kematian Yesus. Dengan demikian, Petrus – sebagai rekan-pendosa – berbicara kepada mereka agar mereka melakukan pertobatan yang akan memimpin mereka kepada kehidupan.

Dalam artian tertentu, kita masing-masing turut bertanggung-jawab atas kematian Yesus, karena untuk menebus dosa-dosa kitalah Dia mati di kayu salib. Akan tetapi, seperti juga para anggota Sanhedrin (Kis 5:28), sukarlah bagi kita untuk menerima dosa-dosa kita. Kita cenderung untuk menyalahkan orang-orang lain. Kita ingin melarikan diri. Kita meminimalisir tanggung-jawab kita sendiri. Namun kita harus mengingat bahwa tidak ada satu pun dari “strategi-strategi” tersebut akan membawa kebebasan sejati kepada kita. Jalan keluar satu-satunya bagi kita adalah meneladan Petrus, yaitu dengan mengakui dosa-dosa kita dan berbalik kepada Yesus untuk memperoleh belas kasih-Nya.

Allah sangat berkeinginan untuk mengampuni kita. Ini adalah inti pesan Petrus kepada para anggota Sanhedrin. Petrus berharap bahwa setiap orang – bahkan musuh-musuhnya sekali pun – akan menjadi seperti dirinya, yaitu para pendosa yang dibebaskan oleh belas kasih seorang Juruselamat yang tersalib.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi wafat di kayu salib guna menebus aku dari dosa, rasa bersalah, dan rasa malu yang ada pada diriku. Aku menyadari bahwa adalah dosa-dosaku yang membunuh-Mu, dan dengan rendah hati menerima pengampunan yang telah Kaumenangkan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal  16-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN APRIL 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-5-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS