TINDAKAN KASIH YANG PALING AGUNG DALAM SEJARAH

(Bacaan Injil dalam Liturgi Sabda, HARI JUMAT AGUNG – 3 April 2015) 

artbook__057_057__thecrucifixion_sm___

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya. (Yoh 19:25-30) 

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42 

Bagi umat Kristiani, hari Jumat Agung akan selamanya menjadi titik sentral dalam sejarah manusia – suatu hari duka mendalam namun pada saat bersamaan merupakan suatu hari yang penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena pada hari kita memperingati tindakan kasih yang paling agung dalam sejarah: salib Yesus Kristus. Salib merupakan klimaks dari segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus selama Dia hidup di dunia sebagai Yesus dari Nazaret – sumber segala hikmat, permenungan, dan puji-pujian yang tidak pernah akan mengering.

Hari Jumat Agung adalah pusat kisaran kepadanya semua hal-ikhwal sejarah ditarik, dan dari mana semua sejarah yang telah ditransformasikan selamanya mengalir ke luar. Ciptaan yang baik dari Allah disapu sampai kepada titiknya yang paling rendah pada saat kematian Yesus – hanya untuk menemukan kebaikannya yang sempurna di seberang sana, ketika Yesus bangkit dari alam maut. Allah tidak pernah begitu dekat dengan umat manusia daripada apa yang dilakukan-Nya dengan inkarnasi Yesus dan segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dari misteri inkarnasi tersebut. Namun justru karena manusia begitu dekat dengan Yesus, maka penolakan manusia dan perlawanan mereka terhadap diri-Nya menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Penderitaan sengsara dan kematian Yesus  merupakan ilustrasi paling jelas dari kasih-Nya yang tanpa batas bagi kita semua.

Yesus samasekali tidak bersalah, sepenuhnya bebas dari dosa. Namun Ia menanggung semua dosa kita dan segala ketidakadilan yang menimpa diri-Nya, selagi Dia tergantung pada kayu salib. Kemenangan berjaya dari Yesus mengungkapkan tujuan perjalanan kita yang terletak bukan di dunia ini, melainkan di surga. Dia yang paling dapat membuat dunia ini sebuah tempat yang indah dan dipenuhi cintakasih justru tidak pernah diberikan tempat yang penting dalam sistem-dunia. Akan tetapi, pada hari ketiga Yesus bangkit. Di sini Dia menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah kemenangan-Nya atas dosa dan maut – dan memberdayakan semua umat beriman untuk melakukan hal yang sama. Ada contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya terkait dengan perubahan permanen yang disebabkan oleh hari Jumat Agung. Bahkan cara kita membagi sejarah – S.M. dan A.D. –  pun mengalir dari kedatangan sang Juruselamat ke tengah dunia!

FRANSISKUS DAN YANG TERSALIBPada hari ini marilah kita secara istimewa bermeditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kerendahan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15::34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib itu dengan tangan dan kaki terpaku, dan yang ditikam lambung-Nya dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta. Bersembah-sujudlah dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16).

Salib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah “kasih perjanjian” (Inggris: covenant love), kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri.

Selagi kita melakukan meditasi di depan “Anak Domba yang disembelih”, renungkanlah “betapa besarnya” Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia?

Dalam meditasi kita, marilah kita merenungkan implikasi-implikasi dari kematian Yesus. Renungkanlah kenyataan bahwa Putera Allah yang kekal sesungguhnya datang ke tengah dunia guna membawa kita kembali kepada Bapa-Nya – dan hal itu itu dilakukan-Nya lewat kekejian salib. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah kita pernah menolak Yesus Kristus dengan cara dan alasan apapun. Kasih-Nya adalah kasih yang penuh kesetiaan dan sejati.

Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, “kasih perjanjian” sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi kita semua dalam hal ini: “Setiap kali anda dan saya mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka kita menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!”

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur untuk segala sesuatu yang telah Kau capai – lewat kata-kata dan tindakan-tindakan-Mu – selama hidup-Mu di atas bumi ini, teristimewa pada hari terakhir hidup-Mu. Di atas kayu salib Engkau merasa ditinggalkan oleh Bapa [Mzm 22:2; Mzm 31:23], namun Engkau mengumpulkan nafas-Mu yang terakhir dan menyerahkan nyawa-Mu kepada Bapa [Mzm 31:6]. Engkau tetap yakin bahwa persembahan kurban-Mu memiliki nilai tak terbatas bagi kami semua. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar kami lebih memahami lagi makna dari kematian-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42; versi pendek: Yoh 19:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “’AKU HAUS!’ ‘SUDAH SELESAI.’” (bacaan tanggal 3-4-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-04 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MEMBUAT KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA” (bacaan tanggal 18-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 52:13-53:12), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU MEMBEBASKAN AKU, YA TUHAN, ALLAH YANG SETIA” (bacaan tanggal 29-3-13) dan “SEGALANYA BERPUSAT PADA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS” (bacaan tanggal 6-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-4-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 31 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS