SENIN PEKAN KELIMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HenriNouwenMaka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:3-7). 

Inti kabar gembira adalah bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, Allah yang harus ditakuti atau dihindari, Allah yang membalas dendam, tetapi Allah yang tergerak oleh penderitaan kita dan ikut merasakan sepenuhnya perjuangan manusia …

Allah adalah Allah yang murah hati. Ini berarti pertama-tama bahwa Ia adalah Allah yang memilih menjadi Allah-beserta-kita …

Begitu kita menyebut Allah sebagai “Allah-beserta-kita”, kita memasuki hubungan intim yang baru dengan-Nya. Dengan menyebut-Nya Immanuel, kita mengakui bahwa Ia melibatkan diri-Nya untuk hidup dalam kesetiakawanan dengan kita, untuk bersama-sama berbagi rasa dalam kegembiraan dan kesakitan kita, untuk membela dan melindungi kita dan untuk menanggung seluruh suka-duka kehidupan bersama kita. Allah-beserta-kita adalah Allah yang dekat, Allah tempat kita mencari perlindungan, pegangan, kebijaksanaan dan bahkan lebih lagi Ia adalah penolong, gembala dan cinta kita. Kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenal Allah sebagai Allah yang murah hati kalau kita tidak mengerti dengan hati dan budi kita bahwa “Ia tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

+++++++

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah adalah Allah kita dan bukan Allah yang asing, di luar kita atau yang lewat saja?

Kita mengetahuinya karena dalam Yesus kemurahan hati Allah nyata bagi kita. Yesus tidak hanya berkata, “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu murah hati”, tetapi Ia juga mewujudnyatakan kemurahan hati ilahi itu dalam dunia kita. Tanggapan Yesus terhadap orang-orang yang bodoh, yang lapar, yang buta, yang lumpuh, orang-orang kusta, janda-janda dan semua yang datang kepada-Nya dengan penderitaan mereka, mengalir dari kemurahan hati ilahi yang membuat Allah menjadi salah satu dari antara kita. Kita perlu memperhatikan dengan cermat kata-kata dan karya-karya Yesus kalau kita mau memahami rahasia kemurahan hati ilahi itu. Kita dapat salah mengerti kisah-kisah mukjizat yang diceritakan dalam Injil jika kita hanya terkesan oleh yang tampak dari luar saja, yaitu bahwa orang-orang yang sakit tiba-tiba dibebaskan dari penyakit mereka. Seandainya memang inilah yang merupakan inti kisah-kisah itu, orang yang tidak senang dapat mengatakan bahwa sebagian besar orang pada zaman Yesus tidak disembuhkan dan bahwa mereka yang disembuhkan hanya membuat keadaan menjadi lebih jelek bagi mereka yang tidak disembuhkan. Yang penting bukanlah penyembuhan orang-orang sakit, tetapi kemurahan hati Allah yang menggerakkan Yesus untuk menyembuhkan.

DOA: Tuhan, Engkau datang tidak untuk menghakimi dunia tetapi untuk menyelamatkannya: setiap orang yang menolak Engkau dan tidak mau mendengarkan sabda-Mu, sudah ada hakimnya: sabda yang Kauucapkan akan menjadi hakimnya pada akhir zaman (bdk. Yoh 12:47-48).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 107-109. 

Cilandak, 23 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS