RABU PEKAN KEEMPAT PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

95666362_640“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya  Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19).

Ketaatan Yesus berarti mendengarkan Bapa dengan perhatian yang penuh dan tanpa rasa takut. Antara Bapa dan Anak yang ada hanyalah kasih. Segala sesuatu yang ada pada apa, dipercayakan kepada Anak (Luk 10:22) dan segala sesuatu yang diterima oleh Anak, dikembalikan-Nya kepada Bapa. Bapa membuka diri sepenuhnya kepada Anak dan meletakkan segala sesuatu pada tangan-Nya: segala pengetahuan (Yoh 12:50), segala kemuliaan (Yoh 8:54), segala kekuasaan (Yoh 5:19-21). Dan Anak membuka diri sepenuhnya kepada Bapa dan dengan demikian mengembalikan segala sesuatu ke tangan Bapa. “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28).

Cinta yang tidak pernah habis antara Bapa dan Anak mencakup tetapi sekaligus mengatasi segala macam bentuk cinta yang kita ketahui. Cinta itu mencakup cinta seorang ayah dan seorang ibu, seorang kakak dan seorang adik, seorang suami dan seorang istri, seorang guru dan sahabat. Namun cinta itu juga jauh mengatasi semua pengalaman cinta menusia yang terbatas dan membatasi yang dapat kita kenal. Cinta itu mendukung tetapi juga menuntut. Cinta itu meneguhkan tetapi juga keras. Cinta itu lembut tetapi juga kuat. Itulah cinta yang memberi kehidupan sekaligus menerima kematian. Dalam cinta ilahi ini Yesus diutus ke dunia, dan kepada cinta ilahi ini Yesus memberikan diri-Nya di kayu salib. Cinta yang mencakup segala-galanya ini, yang menghubungkan Bapa dan Anak adalah Pribadi ilahi, yang setara dengan Bapa dan Anak. Cinta itu mempunyai nama, yaitu Roh Kudus. Bapa mencintai Anak dan mencurahkan diri dalam anak. Anak dicintai oleh Bapa dan mengembalikan seluruh diri-Nya kepada Bapa. Roh Kudus adalah kasih itu sendiri, yang sejak kekal ada dalam Bapa dan Putera.

Komunitas cinta abadi ini adalah pusat dan sumber kehidupan rohani Yesus, yaitu hidup yang terus-menerus terarah kepada Bapa dalam Roh kasih. Dari kehidupan seperti inilah pelayanan Yesus berasal. Segala yang Ia lakukan, makan atau berpuasa, berdoa atau berkarya, berjalan atau beristirahat, mewartakan Injil atau mengajar, mengusir setan atau menyembuhkan, Ia lakukan dalam Roh kasih ini. Kita tidak akan pernah mengerti arti pelayanan Yesus yang beragam itu secara penuh kalau kita tidak melihat bahwa berbagai hal itu berakar dalam satu hal: mendengarkan Bapa dalam kedalaman kasih yang sempurna. Kalau kita melihat hal ini, kita juga akan sadar bahwa tujuan pelayanan Yesus tidak lain kecuali membawa kita masuk ke dalam kesatuan cinta abadi ini.

+++++++

Hari ini dalam bacaan liturgi, Yesus menyatakan bahwa segala sesuatu yang Ia lakukan, Ia lakukan dalam hubungan dengan Bapa-Nya…

Kata-kata Yesus mempunyai arti khusus bagi saya. Saya harus hidup dalam ikatan yang terus-menerus dengan Yesus dan melalui Dia dengan Bapa. Hubungan ini adalah inti hidup rohani. Hubungan ini menyelamatkan hidup saya sehingga tidak habis karena ingin mengejar berbagai macam hal. Hubungan ini membuat hari-hari saya tidak membosankan, melelahkan, kering dan mengecewakan. Kalau segala sesuatu yang saya kerjakan dapat semakin menjadi ungkapan keikutsertaan saya dalam kehidupan ilahi yang memberikan segalanya dan menerima segalanya, lalu semua akan terberkati dan tidak lagi terpecah-pecah. Ini tidak berarti bahwa semuanya akan menjadi mudah dan menyenangkan. Masih akan tetap ada banyak penderitaan, tetapi kalau dihubungkan dengan penderitaan Tuhan sendiri, bahkan penderitaan saya dapat membawa saya kepada hidup.

DOA: Tetapi aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih-setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!

Jawablah aku, ya Tuhan sebab kasih-setia-Mu baik, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar. Janganlah sembunyikan wajah-Mu kepada hamba-Mu. (Mzm 69:14,17)

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 92-94. 

Cilandak, 18 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS