JUMAT PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

download (1)“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:30). 

Hidup secara rohani adalah hidup di hadirat Allah. Keyakinan ini saya sadari kembali berkat jasa Br. Laurentius seorang Karmelit berbangsa Perancis yang hidup pada abad ketujuhbelas. Buku yang berjudul The Practice of the Presence of God berisi empat wawacanra dengan Br. Laurentius dan lima belas suratnya.

Ia menulis, “Untuk dapat berada bersama Allah tidak perlu selalu berada di gereja. Kita dapat mendirikan tempat khusus dalam hati kita sendiri. Ke situ tiap-tiap kali kita dapat mengundurkan diri untuk berbicara dengan Dia dalam kelembutan, kerendahan hati dan cinta. Setiap orang dapat masuk ke dalam wawancara seperti itu dengan Allah, ada yang  lebih ada yang kurang. Ia tahu yang dapat kita lakukan. Maka marilah kita mulai saja. Mungkin yang Ia kehendaki hanyalah salah satu ketetapan hati yang rela dari pihak kita. Majulah”.

“Saya tahu bahwa untuk mengalaminya secara benar (= kehadiran Allah) hati kita harus kosong dari segala macam hal, karena Allah sendiri saja yang akan menempatinya. Ia tidak dapat menempatinya sendiri kalau hati itu tidak kosong dari segala macam hal. Ia tidak dapat bertindak di sana dan melakukannya sesuai dengan kehendak-Nya, kalau hati itu tidak dikosongkan bagi Dia”.

Pesan Br. Laurentius yang begitu sederhana adalah begitu mendalam. Bagi dia yang begitu dekat dengan Allah, hanya Allah saja yang perlu. Hanya Allah yang perlu dan dalam diri Allah semua orang dan segala macam hal diresapi cinta. Hidup di hadirat Allah adalah hidup dengan hati yang murni, dengan budi yang sederhana dan dengan menerima semua kehendak-Nya. Untuk hidup seperti itu orang perlu memilih, mengambil keputusan dan membutuhkan keberanian. Itu adalah tanda kesucian.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau pernah bersabda, “Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa” (Yoh 18:9). Sabda-Mu menjadi sumber penghiburan bagiku pada hari ini. Sabda-Mu menunjukkan bahwa Engkau melakukan semua yang dapat Kaulakukan untuk melindungi aku dalam cinta-Mu. Sabda-Mu menyatakan bahwa Engkau datang ke dunia ini untuk memberikan keselamatan kepadaku, untuk membebaskan aku dari belenggu kejahatan dan dosa, dan menuntun aku ke rumah Bapa-Mu. Sabda-Mu menyatakan bahwa Engkau rela berjuang melawan kekuatan-kekuatan yang besar, yang mencoba menjauhkan diriku dari diri-Mu. Tuhan, Engkau berkenan memegangku, berada dekat dengan diriku, berjuang bagiku, melindungiku, membantuku, mendukungku, memberikan penghiburan kepadaku dan membawaku kepada Bapa. Perutusan ilahi-Mu adalah agar aku tidak sampai hilang binasa! Kendati begitu aku tetap bebas. Aku dapat menjauhkan diri dari pada-Mu, dan Engkau tidak akan pernah menarik kembali kebebasanku. Kasih-Mu sungguh mengagumkan, rahmat ilahi-Mu tak terselami oleh akal budi! Tuhan, bantulah aku agar dengan bebas memilih cinta-Mu sehingga aku tidak hilang dan binasa. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 77-79. 

Cilandak, 13 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS