SENIN PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HenriNouwen“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya …”

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi (Luk 4:24,28-30). 

Ia menjadi manusia dari suatu bangsa yang kecil, ditindas dan dalam keadaan yang sangat sulit. Ia dihina oleh para penguasa bangsa-Nya, dijatuhi hukuman mati serta disalibkan di antara dua penjahat.

Tidak ada yang sangat hebat dalam hidup Yesus. Jauh dari itu! Juga kalau membuat mukjizat, Ia tidak menyembuhkan atau menghidupkan orang demi kemasyhuran-Nya sendiri. Ia melarang orang-orang yang disembuhkan untuk berbicara. Kebangkitan-Nya pun adalah peristiwa yang tersembunyi. Hanya murid-murid-Nya dan beberapa wanita yang sudah mengenal-Nya dari dekat sebelum Ia wafat mengalami-Nya sebagai Tuhan yang bangkit.

Sekarang agama Kristen sudah menjadi salah satu agama terbesar. Berjuta-juta orang percaya kepada Yesus. Melihat itu semua sulit bagi kita untuk percaya bahwa Yesus dulu mewahyukan Allah secara tersembunyi. Baik hidup Yesus, wafat maupun kebangkitan-Nya tidak dimaksudkan agar kita terkagum-kagum akan kuasa Allah yang besar. Allah menjadi Allah yang rendah, tersembunyi dan hampir-hampir tidak kelihatan …

Ini adalah suatu misteri yang sangat sulit ditangkap di zaman kita yang begitu menganggap penting hal-hal yang hebat. Kita cenderung berpikir, semakin banyak orang tahu dan berbicara mengenai sesuatu, semakin pula ia tampil sebagai orang penting. Ini bisa dimengerti kalau mengingat bahwa menjadi terkenal berarti lebih mudah mengumpulkan uang; dan mempunyai uang banyak berarti kuasa ada di tangan, dan kekuasaan dengan mudah membuat orang mengira bahwa dirinya penting. Dalam masyarakat kita, yang menentukan sesuatu penting atau tidak penting adalah harga, jumlah atau statistik: kaset yang paling laris, buku yang paling banyak dibeli, orang yang paling kaya, gedung yang paling tinggi, mobil yang paling mahal.

+++++++

Dunia kita adalah dunia yang haus akan nama besar. Saya selalu heran, dalam dunia seperti itu pembicaraan mengenai Allah banyak yang mulai dengan mempertanyakan Allah. Sering orang berkata, “Kalau Allah seperti yang kaupercaya sungguh ada mengapa Ia tidak menunjukkan kemahakuasaan-Nya dalam dunia yang kacau ini?” Allah harus memberikan pertanggungjawaban dan membuktikan bahwa diri-Nya memang benar-benar ada. Kita juga sering mendengar orang berkata, “Saya tidak membutuhkan Allah macam apa pun. Saya dapat mengurus diri saya sendiri. Saya tidak membutuhkan pertolongan Allah untuk memecahkan masalah-masalah saya”. Dalam kata-kata seperti itu kita dapat melihat hati yang pahit dan menyindir tajam, sekaligus harapan yang tersembunyi: seharusnya Allah menjadikan diri-Nya terkenal dengan tampil hebat. Seringkali kita berpikir bahwa Allah membutuhkan pengakuan seperti halnya diri kita.

Sekarang lihatlah Yesus. Ia datang untuk mewahyukan Allah kepada kita. Kita melihat bahwa Ia selalu menghindarkan diri dari popularitas dalam bentuk apa pun juga. Ia selalu menunjukkan bahwa Allah menyatakan diri dalam ketersembunyian. Kedengarannya aneh, paradoksal. Namun dengan menerimanya atau lebih baik dengan masuk ke dalam paradoks itu, kita akan sampai di jalan kehidupan rohani.

DOA: Tuhan, aku berdoa bagi semua orang yang memberikan kesaksian mengenai diri-Mu di dunia ini: para uskup, imam, pelayan dan siapa saja yang merelakan hidupnya bagi-Mu, dan semua orang yang berusaha untuk membawa terang Injil-Mu ke dalam kegelapan zaman ini. Berilah mereka keberanian, kekuatan, ketekunan dan harapan; penuhilah hati dan budi mereka dengan pengenalan akan kehadiran-Mu dan biarlah mereka merasakan bahwa nama-Mu adalah tempat perlindungan mereka dari segala bahaya. Terutama anugerahkanlah kepada mereka kegembiraan Roh-Mu sehingga ke mana pun dan kepada siapa pun mereka pergi, mereka mampu menyingkirkan tabir kekecewaan, kecemasan dan membawa kehidupan baru kepada orang-orang yang hidup dalam ketakutan akan kematian. Tuhan, sertailah semua orang yang mewartakan kabar gembira keselamatan-Mu. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 65-67. 

Cilandak, 9 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS