MENELADANI SANG BAPAK ATAU SI ANAK SULUNG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 7 Maret 2015) 

stdas0730Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

LUK 15 ANAK YANG HILANGPerumpamaan Yesus ini secara tradisional dikenal sebagai “Perumpamaan tentang Anak yang Hilang”; kadang-kadang dinamakan “Perumpamaan tentang Bapa yang Mengampuni”. Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita tentang bela rasa yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Dr. Kenneth Bailey dari School of Theology di Beirut, Lebanon mencatat bahwa seperti halnya di banyak masyarakat lainnya, dalam masyarakat Timur Tengah, seorang bapak dapat membuat surat wasiat atau tidak membuatnya. Namun alternatif apa pun yang dipilihnya, sang bapak akan selalu memegang hak atas uang yang dimilikinya (termasuk bunganya) sampai dia wafat. Apabila ada anaknya yang minta bagian warisan sebelum waktunya, maka hal ini sama saja dengan menyumpahi bapaknya agar segera “mati”! Tulisan ini bersumberkan pada pemikiran Dr. Bailey tersebut.

Dalam perumpamaan ini, si anak bungsu sebenarnya melukai hati bapaknya dalam dua cara. Pertama-tama, dia meminta uang dari bapaknya “sekarang juga”. Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak dapat menunggu sampai saat bapaknya itu meninggal dunia. Kedua, dengan meminta bagian warisan dan hak untuk menggunakannya, lengkaplah sudah bagaimana dia mengabaikan kebutuhan-kebutuhan masa depan dari bapaknya. Namun, sang bapak mengikuti keinginan “kurang ajar” (tak tahu adat) dari anaknya itu. Dan …… walaupun hatinya terluka, dia tidak marah.

Begitu si anak bungsu menghabiskan uang hasil penjualan harta warisannya itu, kita mungkin saja berpikir mengapa dia tidak pulang saja ke rumahnya. Salah satu alasan kiranya adalah karena dia merasa malu untuk kembali pulang. Alasan lain adalah bahwa dia akan “dicuekin” … dianggap tidak ada – artinya tidak ada seorang pun akan berbicara atau diasosiasikan dengan dirinya. Perlakuan seperti ini juga akan dialami oleh seorang laki-laki apabila dia menikah dengan seorang perempuan tidak bermoral atau kehilangan uang (merugi) karena berhubungan dengan orang non-Yahudi (baca: kafir). Dalam kasus-kasus seperti ini, “orang yang bersalah” harus mengakui dosa-dosanya, mengkompensasi kerugian dan tetap berada di luar komunitasnya sampai terbukti pantas untuk masuk kembali ke dalam komunitasnya itu.

Dalam perumpamaan ini, sang bapak menginisiasi suatu cara baru dalam mengampuni. Sang bapak tidak mencuekkan anaknya, bahkan dia berlari (orang yang sudah tua biasanya tidak bertindak seperti itu) untuk bertemu dengan anaknya, yang sebenarnya secara terbuka dan dengan sengaja telah melukai hatinya. Sang bapak tidak menunggu anaknya mengucapkan permohonan maaf, melainkan dia langsung saja mengampuni anaknya secara total. Pengungkapan kasih berlimpah dari sang bapak yang tidak disangka-sangka ini tentunya sangat menyenangkan hati anaknya.

Yesus memakai cerita ini sebagai sebuah contoh pengampunan Allah kepada kita semua dan sebagai suatu model pengampunan yang harus kita terapkan satu sama lain dengan sesama manusia (bukan hanya dengan orang Kristiani). Kasih sang bapak telah menyembuhkan masa lampau; pertobatan si anak akan mengoreksi masa depannya.

ANAK YANG HILANG PULANGSekarang kita lihat perilaku si anak sulung. Ternyata dia “mencuekkan” adiknya; dia menolak untuk menyambut kedatangan kembali adiknya itu. Nah, bagaimana halnya dengan kita masing-masing dalam menghadapi situasi serupa? Kita dapat meneladani sang bapak yang penuh bela rasa atau meniru perilaku anaknya sulung yang tidak berbelas kasih terkait dengan mengampuni orang lain. Kita dapat “berlari” sambil membuka kedua tangan kita lebar-lebar guna menyambut orang itu, atau membelakangi serta menolak untuk berbicara kepada orang itu. Saya jadi teringat akan sebuah motto kerja ketika saya bekerja di First National City Bank (Citibank N.A.) berpuluh tahun lalu: “What you do is up to you!” 

Setiap kali kita membuang dan melupakan luka-luka dan sakit hati kita di masa lampau, maka kita bertumbuh sedikit lebih besar dan lebih baik. Jika kita tetap hidup sambil memendam kepahitan dan kebencian, maka sebenarnya kita secara perlahan-lahan sedang menuju kematian. Saudari-Saudaraku, inilah saatnya bagi kita untuk berbalik dan kembali kepada Bapa surgawi. Dia adalah Allah yang baik, satu-satunya yang baik dan sumber segala kebaikan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu kepadaku yang tanpa syarat dan juga pengampunan-Mu atas segala dosa-dosaku, baik melalui pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaian – teristimewa kelalaian untuk mengasihi sesamaku tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada: status sosial-ekonomi, ras/bangsa, suku, bahasa, agama. Apabila aku berada dalam keadaan yang tidak benar di mata-Mu, tolonglah aku agar mau dan mampu berlari mendapati-Mu dan jatuh ke dalam pelukan-Mu yang penuh kasih dan pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK YANG HILANG” (7-3-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-03 BACAAN HARIAN MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul, “PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 10-3-12), “PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA” (bacaan tanggal 2-3-13), dan “KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR” (bacaan tanggal 22-3-14), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 4 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS