RABU PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 01“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 26-28).

Rahasia agung kemurahan hati Allah adalah bahwa dalam kemurahan hati-Nya, dalam tindakan-Nya mengambil rupa seorang hamba bersama-sama kita, Ia mewahyukan diri-Nya sebagai Allah. Perendahan diri-Nya menjadi hamba bukanlah kekecualian dari keallahan-Nya. Pengosongan diri-Nya bukanlah langkah meninggalkan kodrat-Nya yang sejati. Tindakan-Nya menjadi sama seperti kita dan kematian-Nya di salib bukanlah suatu “selingan” dari keberadaan ilahi-Nya. Sebaliknya dalam Kristus yang kosong dan rendah, kita berjumpa dengan Allah, kita melihat siapakah Allah sebenarnya, kita mengenal keilahian-Nya yang sejati.

Dalam kehambaan-Nya Allah tidak mengingkari diri-Nya sendiri, Ia tidak mengenakan sesuatu yang asing, Ia tidak bertindak melawan diri ilahi-Nya. Sebaliknya dalam kehambaan-Nyalah Allah memilih untuk mewahyukan diri sebagai Allah kepada kita. Karena itu, kita dapat berkata bahwa gerak turun seperti yang kita lihat pada Yesus Kristus bukanlah suatu gerakan meninggalkan Allah, namun suatu gerak menuju kepada-Nya sebagai Allah: Allah datang bagi kita tidak untuk memerintah tetapi untuk melayani. Akibatnya, Allah tidak ingin dikenal kecuali melalui perhambaan dan oleh karena itu perhambaan adalah perwahyuan diri Allah.

Penghambaan yang radikal tidak berarti, kecuali kalau kita memperhitungkan tingkat pengertian yang baru dan melihatnya sebagai jalan untuk bertemu dengan Allah sendiri. Menjadi rendah dan dianiaya tidak dapat dijadikan cita-cita, kecuali kalau kita dapat menemukan Allah dalam kerendahan hati dan penganiayaan. Kalau kita mulai melihat Allah sendiri, sumber segala kebahagiaan dan penghiburan di tengah-tengah penghambaan, murah hati menjadi jauh lebih daripada sekedar berbuat baik kepada orang-orang yang tidak beruntung. Penghambaan yang radikal, sebagai tempat pertemuan dengan Allah yang murah hati, membuat kita mampu mengatasi perbedaan-perbedaan antara kaya dan miskin, berhasil dan gagal, beruntung dan bernasib buruk. Penghambaan yang radikal bukanlah usaha untuk mencoba mengurung diri kita sebanyak mungkin, melainkan cara hidup yang penuh kegembiraan. Di dalamnya mata kita terbuka terhadap penglihatan akan Allah yang benar, yang telah memilih jalan penghambaan untuk membuat diri-Nya dikenal. Yang miskin disebut berbahagia bukan karena kemiskinan itu baik, melainkan karena milik merekalah Kerajaan Surga. Yang berduka dikatakan berbahagia bukan karena dukacita itu baik, melainkan karena mereka akan dihibur.

Di sini kita menyentuh kebenaran rohani yang mendalam, yaitu bahwa pelayanan adalah wujud usaha mencari Allah, bukan hanya usaha yang dilandaskan pada keinginan untuk mengadakan perubahan sosial atau pribadi.

+++++++

Kegembiraan dan rasa syukur adalah kualitas batin. Lewat kualitas batin tersebut kita mengenal orang-orang yang melibatkan diri demi pelayanan pada jalan Yesus Kristus … Di manapun kita melihat pelayanan yang sejati, kita menemukan kegembiraan, karena di tengah-tengah pelayanan itu kehadiran ilahi menjadi tampak dan rahmat dianugerahkan. Oleh karena itu orang-orang yang memberikan pelayanan sebagai pengikut-pengikut Yesus, menjadi sadar bahwa mereka menerima lebih banyak daripada yang mereka berikan. Sama seperti seorang ibu tidak perlu diberi balas jasa untuk perhatian yang diberikan kepada anaknya, karena anaknya adalah kegembiraannya, demikian mereka yang melayani sesamanya akan menemukan pahala dalam diri orang-orang yang mereka layani. Kegembiraan orang-orang yang mengikuti jalan pengosongan dan perendahan diri Tuhan, memperlihatkan bahwa yang mereka cari bukanlah kesengsaraan dan penderitaan melainkan Allah yang kemurahan hati-Nya mereka rasakan dalam kehidupan mereka sendiri; mata mereka tidak terpusat pada kemiskinan dan kemalangan, melainkan pada wajah Allah yang mencintai.

DOA: Tuhan, Engkaulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Bapa selain melalui diri-Mu. (bdk. Yoh 14:6) 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 50-52. 

Cilandak, 4 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS