MENJADI UMAT YANG KUDUS BAGI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 28 Februari 2015)

Ludovico_Mazzolino_-_God_the_Father“Pada hari ini TUHAN (YHWH), Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada YHWH pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan YHWH telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi YHWH, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya (Ul 26:16-19) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8; Bacaan Injil: Mat 5:43-48 

Apa artinya “dipisahkan”? Selagi mereka berkelana di padang gurun sambil mempelajari cara-cara atau jalan-jalan Allah, umat Israel dipisahkan secara fisik dari bangsa-bangsa lain dalam suatu isolasi yang merupakan tanda-kuat dari suatu realitas yang bahkan lebih mendalam, yaitu hal-hal lebih besar yang akan datang.

Dalam Kristus – sebagai anak-anak “angkat” Allah – kita dipanggil untuk menjadi suatu umat yang dipisahkan, dibangkitkan bersama-sama dengan Dia sampai kepada ketinggian surgawi: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi sekarang, telah beroleh belas kasihan” (1Ptr 2:9-10). Santo Paulus, dalam salah satu suratnya, juga menulis, “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh anugerah kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga” (Ef 2:4-6).

Akan tetapi kita harus ingat mengapa sampai begitulah halnya. Sebagaimana umat Israel, Allah ingin mengajar kita cara-cara atau jalan-jalan-Nya. Kita tidak dipisahkan karena jasa kita sendiri, melainkan karena Allah menginginkan agar kita memanifestasikan kasih-Nya yang sempurna kepada dunia di sekeliling kita.

Allah tidak memilih umat Israel untuk dipisahkan karena mereka adalah orang-orang yang sempurna. Sebaliknya, Allah memisahkan mereka sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk mereka sebagai umat-Nya yang istimewa, sebuah tanda bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Hal yang sama berlaku juga bagi kita pada hari ini. Kita tidak dipisahkan dan dibangkitkan karena jasa kita sendiri, melainkan melalui kasih Juruselamat kita. Dalam hikmat-Nya, Allah berketetapan hati untuk memenuhi Gereja dengan hidup-Nya sendiri supaya melalui contoh-contoh hidup kita, kita pun dapat menarik orang-orang lain ke dalam suatu relasi dengan Dia.

photo_verybig_147438Pikirkanlah contoh-contoh dari orang-orang beriman yang telah menyentuh kehidupan banyak orang. Kita ingat bagaimana Paus Yohanes Paulus II mengampuni laki-laki yang berupaya membunuhnya. Kita masih belum lupa bagaimana Bunda Teresa dari Kalkuta memelihara dan merawat orang-orang paling miskin dalam masyarakat. Kita juga baru saja menyaksikan bagaimana di Jakarta seorang Elisabeth Diana dengan ikhlas mengampuni dua orang pembunuh puteri tunggalnya yang sangat dikasihinya, Ade Sara Angelina Suroto. Barangkali kita juga mempunyai tetangga atau sahabat yang giat menolong orang-orang miskin dalam masyarakat, padahal mereka juga tidak berkelebihan dalam harta-kekayaan. Dalam tindakan-tindakan penuh kasih orang-orang ini kita dapat melihat secara sekilas lintas betapa Yesus memiliki bela rasa atas diri kita semua.

Selagi kita melihat dan mengalami kasih Allah dalam doa, kita dapat belajar mengasihi orang-orang lain dengan cara-cara yang praktis dan sederhana: Barangkali kita menawarkan sepotong selimut kepada seseorang yang tidak mempunyai rumah dan setiap malam tidur di taman kota yang tidak jauh dari rumah kita. Barangkali kita dapat membawa sup hangat, buah-buahan dll. untuk diberikan kepada seorang sahabat atau anggota lingkungan yang sedang sakit, dan ia tinggal sendirian di rumahnya. Barangkali kita memprakarsai doa bersama untuk seorang anggota keluarga yang sedang menghadapi situasi kehidupan yang sulit. Marilah kita bertanya kepada Allah bagaimana kiranya kita dapat saling mengasihi secara lebih dan lebih lagi. Selagi kita melakukannya, maka mukjizat-mukjizat-Nya yang memiliki daya transformasi akan bercahaya melalui diri kita kepada dunia di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengutus Yesus untuk memisahkan kami sebagai anak-anak “angkat”-Mu. Melalui Roh Kudus-Mu, berikanlah kepada kami kekuatan dan keberanian untuk saling mengasihi seperti Yesus mengasihi kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI, MENGAMPUNI, MENGAMPUNI !!!” (bacaan tanggal 28-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02  BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015.  

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “PUNCAK KHOTBAH DI BUKIT” (bacaan tanggal 23-2-13),  “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 3-3-12), dan “SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA” (bacaan tanggal 15-3-14), ketiganya  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 25 Februari 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS