BERPUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu – 20 Februari 2015) 

Ludovico_Mazzolino_-_God_the_FatherSerukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah-nya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukuli dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini  suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada YHWH? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan YHWH barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan YHWH akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:1-9a) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19; Bacaan Injil: Mat 9:14-15 

Bayangkan apa yang terjadi dengan diri kita pada waktu kita masih anak-anak kecil. Kita tentu masih ingat bagaimana kita tidak boleh makan daging pada hari Jumat dan berpantang dalam hal-hal tertentu selama masa Prapaskah. Barangkali pantang makan es-krim, pantang nonton film di bioskop dlsb. Sementara kita (anda dan saya) menjadi semakin bertumbuh dewasa, semoga kita memahami bahwa alasan mengapa kita menahan diri adalah agar dapat bertumbuh lebih dekat lagi dengan Tuhan.

Di mata dunia, puasa dan pantang merupakan kebodohan, karena penyangkalan-diri bertentangan dengan nilai-nilai budaya sebagian besar anggota masyarakat yang dicirikan dengan pengejaran dan penimbunan harta-kekayaan dengan segala cara, konsumerisme, materialisme, hedonisme, dan sejenisnya. Sebaliknya dengan pandangan masyarakat umum, bagi kita umat Kristiani, puasa menyatakan hati Allah. Hal ini membawa kita ke dalam suatu kerangka pemikiran di mana Dia dapat berbicara secara lebih jelas karena kita tidak membuang semua waktu dan energi kita untuk memuaskan selera kita.

YESAYA - 45Puasa yang dikombinasikan dengan doa adalah sebuah senjata yang memiliki kekuatan untuk melawan musuh kita, yaitu Iblis. Yesus mengkonfirmasi hal ini ketika Dia menjelaskan mengapa para murid-Nya tidak dapat mengusir roh jahat yang merasuki seorang anak laki-laki. Yesus berkata: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Mat 17:21). Berpuasa bukanlah dimaksudkan untuk mencoba membujuk Allah guna melakukan sesuatu bagi kita. Salahlah kita kalau berpikir seperti itu! Puasa adalah mengenai belajar sesuatu dari Dia, bukan memperoleh sesuatu dari Dia karena kita melakukan sesuatu. Sang pemazmur mengatakan: “… dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mzm 37:4). Peranan kita adalah menemukan kegembiraan dalam Tuhan. Selebihnya adalah tergantung kepada-Nya.

Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mendesak kita untuk berpuasa: bukan agar suara kita didengar di surga, melainkan agar kita dapat mengasihi Tuhan dan memberikan diri kita sendiri dalam melayani umat-Nya. Itulah sebabnya mengapa “memerdekakan orang yang teraniaya, berbagi makanan kita dengan orang yang lapar, dan membawa ke rumah kita orang miskin yang tak punya rumah, dan memberi pakaian kepada orang yang memerlukan” menjadi begitu crucial (lihat Yes 58:6-7). 

Berpuasa yang dihendaki Allah menyangkut berpuasa dari dan melawan kodrat kita yang cenderung berdosa. Ini adalah suatu keputusan untuk menyangkal diri kita dari pemikiran-pemikiran, hasrat-hasrat, dan tindakan-tindakan yang memenuhi “hidup lama” di dalam diri kita. Marilah kita bertanya kepada Yesus tentang puasa yang diinginkan oleh-Nya bagi kita dalam masa Prapaskah ini. Allah menginginkan keakraban dengan kita. Oleh karena marilah kita melepaskan diri dari setiap halangan untuk mencapai tujuan yang begitu agung.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Biarlah hasrat-hasratku berkenan kepada-Mu. Biarlah bukan hanya puasaku, melainkan juga seluruh hidupku dapat menjadi kurban persembahan yang dapat diterima dan menyenangkan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-15), bacalah tulisan  yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 20-2-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-3-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  9 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements