AWAL YANG KECIL-KECILAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 30 Januari 2015) 

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-Ordo III

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 10:32-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,23-24,39-40 

MUSTARD SEEDSYesus adalah seorang guru yang sangat baik. Ia menggunakan contoh-contoh yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya dengan serius. Lagi-lagi di sini Yesus memakai benih sebagai contoh.

Pertama-tama Yesus berbicara dengan sederhana bagaimana benih itu, setelah ditanam oleh sang petani,  bertunas dan bertumbuh dan akhirnya berbuah dan apabila sudah matang, siaplah untuk dituai. Seorang petani hanya menanti karena dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sejak benih ditanam sampai buahnya cukup matang untuk dituai. Acuannya adalah kepada  Kerajaan Allah yang ditanam dalam diri orang-orang oleh Kristus. Melalui rahmat-Nya, Kerajaan Allah melalui proses pertumbuhan yang penuh misteri dan dimaksudkan untuk menyebar ke seluruh dunia dan membuahkan tuaian berupa jiwa-jiwa.

Bagian kedua dari bacaan Injil hari ini menceritakan “perumpamaan tentang biji sesawi”. Biji sesawi ini adalah benih yang berukuran sangat kecil, salah satu yang terkecil ketika ditanam. Namun demikian biji sesawi itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi tetumbuhan yang berukuran sangat besar, dengan cabang-cabang yang cukup besar sehingga burung-burung dapat membuat sarang di situ.

Dengan cara serupa, Gereja – Kerajaan Kristus di atas bumi – dimulai secara kecil-kecilan. Tidak banyak orang yang menjadi para pengikut Kristus yang setia pada masa hidup-Nya; hanya ada beberapa orang Rasul dan perrempuan-perempuan yang setia melayani-Nya sejak dari Galilea (lihat Luk 23:49; lihat juga 8:1-3). Sungguh suatu awal yang  tidak begitu menjanjikan, atau katakanlah kurang meyakinkan, bahkan sebagian besar dari para rasul tidak disebut-sebut ada/hadir di sekitar salib Kristus di Kalvari, kecuali Yohanes. Namun dari awal yang kelihatan tidak ada apa-apanya, sekecil biji sesawi, Gereja bertumbuh sampai hari ini dan menjadi seperti sebatang pohon yang besar dan rindang. Di bawah perlindungan dan naungan pohon inilah banyak orang menemukan tempat berlindung dari dosa dan keduniawian.

PARABLE OF THE MUSTARD SEED - 3Cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita. Sebagai manusia, kita akan mengharapkan bahwa suatu kerajaan seperti itu dapat didirikan di atas dasar yang lebih baik daripada para nelayan sederhana. Bukankah lebih baik jikalau yang dipilih sebagai dasar adalah orang-orang yang berlatar belakang jauh lebih baik, misalnya berlatar pendidikan teologi dari “pesantren” terbaik di Yerusalem, memiliki hikmat-kebijaksanaan, dan memiliki kemampuan dalam bidang organisasi dan adminitrasi. Akan tetapi Allah menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya semua itu, jika kita menaruh kepercayaan terlebih-lebih pada kekuatan-kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Yang kita butuhkan adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia.

Apabila kita berbicara sebagai manusia, maka Gereja adalah sebuah mukjizat berkaitan dengan karya Allah. Apabila sekadar mengandalkan upaya manusia, maka Gereja pun tidak akan bertahan lama. Hal yang sama berlaku bagi kita. Sekali-kali kita pun membutuhkan lebih daripada sekadar upaya manusia. Allah telah menjamin kita semua bahwa Dia siap dengan pertolongan-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala situasi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 10:32-39), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN YANG DITOPANG OLEH PENGHARAPAN” (bacaan tanggal 30-1-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 10:32-39), bacalah tulisan yang berjudul “KITA BUKANLAH ORANG-ORANG YANG MENGUNDURKAN DIRI” (bacaan tanggal 1-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 26 Januari 2015 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements