JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan & Martir – Rabu, 21 Januari 2015)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA 

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6) 

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mengingat dan menguduskan hari
Sabat (Kel 20:8). Untuk menguduskan hari Sabat sesuai perintah Allah itu, orang-orang Yahudi menyusun suatu sistem hukum guna melindungi kesuciannya. Melakukan peraturan tentang hari Sabat penting karena hal itu membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yesus menguatkan klaim-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat (Mrk 2:28) pada saat Ia menyembuhkan seorang yang mati satu tangannya. Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi berharap akan menjebak diri-Nya sebagai seseorang yang melanggar hukum Sabat jikalau Ia menyembuhkan orang itu. Oleh karena itu Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi itu dengan bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, orang-orang Farisi secara murni legalistis memandang tindakan-Nya sebagai “kejahatan” karena Yesus telah membuat “profan” hari Sabat yang yang semestinya “sakral”, dengan melanggar hukum yang melarang penyembuhan pada hari Sabat, kecuali untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Di sisi lain, orang-orang Farisi itu memandang tindakan-tindakan mereka untuk menghancurkan Yesus sebagai hal yang “baik”, karena Yesus merupakan ancaman terhadap pemahaman mereka akan Allah.

YESUS SANG RABBI DARI NAZARETYesus adalah pemenuhan janji-janji Allah, yang menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah. Bapa surgawi memberikan kuasa kepada Yesus untuk menyembuhkan, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa. Karena Yesus itu memiliki belarasa dan belas kasih (Mrk 3:4-5), Yesus menempatkan martabat dan nilai manusia di atas hukum Sabat. Dalam menyembuhkan orang itu, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pemberi kehidupan yang sejati – sang Mesias, Putera Allah. Cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap rumah (Mrk 2:1-12), panggilan Lewi (Mrk 2:13-17), pertanyaan mengenai puasa (Mrk 2:18-22), dan isu mengenai bekerja di hari Sabat (Mrk 2:23-28), semua menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias dari Allah yang menghantar kita menuju Kerajaan Allah.

Karena Yesus memiliki hasrat mendalam agar semua orang mengalami penyelamatan-Nya, maka penolakan orang-orang Farisi atas dirinya sungguh membuat diri-Nya sedih. Jika kita memilih untuk percaya kepada ide-ide kita sendiri dan bukannya percaya kepada kebenaran tentang siapa Yesus ini, maka kita pun membuat hati Yesus sedih. Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus sungguh sedih apabila ada domba-Nya yang mengabaikan panggilan-Nya dan berjalan semaunya sendiri. Yesus sungguh menyadari bahwa si Jahat – layaknya seekor serigala – senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba gembalaan. Dengan wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Yesus memberikan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK” (bacaan untuk tanggal 21-1-15), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 15-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 22-1-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 15 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements