YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 15 Januari 2015)

stdas0288Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kapernaum adalah sebuah kota kecil yang terletak di pantai Laut (Danau) Galilea. Seperti diceritakan dalam Injil Markus, di sana Yesus mengajar pada hari Sabat, mengusir roh-roh jahat dari seorang laki-laki di sinagoga (rumah ibadat), bahkan Ia juga menyembuhkan begitu banyak orang sakit yang mencari Dia di rumah Petrus (Mrk 1:21-34). Hari itu adalah satu hari yang tidak akan terlupakan oleh penduduk Kapernaum, karena pada hari itu kota kecil Kapernaum dapat dicari dalam peta.

Pada waktu Yesus melayani di depan publik, Kapernaum hanyak sebuah kampung nelayan yang tidak ramai. Apa yang akan terjadi jika Yesus ke luar dari “kandang”-Nya di Nazaret dan kemudian berkiprah di tempat-tempat lain? Sama saja – itulah yang terjadi. Sejak awal Injil Markus, kita membaca tentang otoritas Yesus untuk menyembuhkan segala sakit penyakit, dan betapa banyak orang yang menjadi percaya kepada misi-Nya. Pada kenyataannya, begitu banyak orang datang mencari Yesus, sehingga Yesus tidak mampu untuk bergerak dengan bebas dari kota ke kota (Mrk 1:45).

Nah, peristiwa yang menandai permulaan dari pelayanan Yesus yang lebih luas adalah penyembuhan seorang kusta (Mrk 1:40 dsj.). Aspek pertama dari peristiwa ini adalah bahwa kita harus mengenali belarasa Yesus terhadap orang kusta ini. Seorang yang menderita penyakit kusta mempunyai kondisi kulit yang melarang kehadirannya di area-area publik. Ketika orang kusta yang satu ini melanggar peraturan yang berlaku dan muncul di depan Yesus, sang “Dokter Agung” malah menanggapi hal tersebut dengan menyentuh kulit orang itu, artinya Yesus membuat diri-Nya menjadi tidak bersih/tahir di mata hukum yang berlaku. Penyembuhan ini memberi tanda kepada orang banyak tentang kuat-kuasa ilahi yang dimiliki Yesus, namun kemauan-Nya untuk menyentuh orang ini merupakan suatu tanda tentang cintakasih dan belarasa-Nya yang demikian besar.

Akhir kejadian itu terasa sedikit aneh. Atas dasar alasan tertentu, Yesus mengatakan kepada orang itu untuk tidak menceritakan kepada siapa-siapa tentang kesembuhannya, jadi sebagai suatu kerahasiaan, namun orang itu tidak mematuhinya (Mrk 1:43-44). Para pakar Kitab Suci paling sedikit mengemukakan tiga penjelasan yang berbeda-beda untuk hal ini. Yang pertama adalah tafsir yang mengatakan bahwa orang kusta yang telah disembuhkan itu langsung saja tidak mematuhi sabda Yesus. Yang kedua adalah tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “dia” (dalam teks bahasa Indonesia dikatakan “orang itu”) yang pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, adalah Yesus sendiri, bukan si kusta (Mrk 1:45). Skenario ketiga adalah bahwa Yesus meminta agar orang kusta itu tidak mengungkapkan sarana yang digunakan untuk menyembuhkan dirinya, karena Yesus mengetahui benar bahwa mukjizat itu dengan sendirinya akan menjadi pengetahuan publik.

Bagaimana pun kita mau membaca cerita penyembuhan orang kusta ini atau apa pun tafsir kita, mukjizat-mukjizat Yesus menuntut kita untuk mematuhi kata-kata-Nya secara serius. Kerajaan Allah menerobos masuk ke dalam dunia dalam diri Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menanggapi perintah Yesus dengan kesetiaan, apakah kata-kata itu berbunyi “Pergilah, perlihatkanlah dirimu  ……” (Mrk 1:44) atau “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mam 143:10). Terpujilah nama-Mu selalu! Anin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 3:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-15) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 16-1-14 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  7 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS