IA HARUS DINAMAI YOHANES [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 23 Desember 2014)

Zechariah and ElizabethKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia.  Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai:  “YHWH memberikan karunia”.(Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991, hal. 602). Dengan kelahiran Yohanes dari Pak Zakharia dan Ibu Elisabet, rahmat dicurahkan ke atas umat-Nya. Allah itu mahabaik karena rencana yang diumumkan-Nya melalui para nabi dipenuhi – sebuah rencana untuk memulihkan umat-Nya, untuk membawa kehidupan kepada mereka, untuk membiarkan kasih-Nya mengalir dengan bebas di atas mereka. Yohanes dimaksudkan untuk bertugas sebagai bentara Kabar Baik, bahwa semua orang dapat memperoleh hidup baru; bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik dapat diperoleh dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Orang-orang yang menanti-nantikan kedatangan sang Mesias harus menyiapkan diri berkaitan dengan pesan rahmat – pemberian gratis ini. Perjanjian dengan Musa telah mengajarkan kepada mereka bahwa Allah yang Mahakuasa telah mengajarkan kepada mereka bahwa sang Mahakuasa menginginkan suatu umat yang benar dan patuh kepada hukum. Yohanes Pembaptis dipanggil untuk mengajar orang-orang tentang seorang Juruselamat yang akan mengangkat ke atas mereka yang percaya, untuk sampai kepada kebaikan-Nya yang sempurna.

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMA - 000Allah mengutus Yohanes Pembaptis untuk menolong “menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17). Kelahiran Yohanes Pembaptis mempersiapkan hati Zakharia guna menyambut kedatangan Kristus. Karena keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri, Zakharia telah meragukan malaikat yang diutuas Allah. Pada saat anaknya siap untuk diberi nama, hati Zakharia telah berubah seluruhnya. Sebelumnya Zakharia sangat mandiri dengan mengandalkan diri sepenuhnya kepada kekuatannya sendiri, namun sekarang ia menggantungkan dirinya hanya kepada Allah. Hal ini dengan jelas dalam pemberian nama “Yohanes” sesuai dengan pesan sang malaikat yang menampakkan diri kepadanya di Bait Suci (Luk 1:63; bdk. Luk 1:13), padahal ketika Elisabet memberitahukan bahwa nama “Yohanes” itulah yang harus diberikan kepada anaknya, mereka yang hadir mengatakan bahwa “tidak ada di antara sanak-saudara keluarga Zakharia yang bernama Yohanes” (lihat Luk 1:61).

Apa yang terjadi dengan Zakharia dapt juga terjadi dengan diri kita apabila kita membuka hati kita bagi rencana Allah untuk membangkitkan kita ke alam surgawi. Ketika Yohanes berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2), sebenarnya dia meminta agar orang-orang mengubah arah. Yohanes “memohon” orang-orang agar mengubah pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkan Allah. Bahkan ada di antara kita yang percaya kepada Kristus dan tergoda untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang kita hadapi dengan hanya mengandalkan kekuatan-kekuatan kita sendiri (determinasi sendiri, talenta sendiri dlsb.)

Allah kita adalah yang mahabaik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Ia ingin menyelamatkan diri kita, mengangkat kita ke atas untuk sampai ke hadirat-Nya. Dia akan syering segalanya dengan kita, hanya apabila kita percaya.

DOA: Datanglah, ya Imanuel, Raja Damai, Hakim Agung: Selamatkanlah kami, Tuhan dan Allah kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS KE DALAM HATI HATI KITA” (bacaan tanggal 23-12-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisn dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 19 Desember 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements