MARILAH KITA BERBALIK DARI KEHIDUPAN DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven – Selasa, 16 Desember 2014) 

ZephaniahCelakalah si pemberontak dan si cemar, hai kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada TUHAN (YHWH) ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap.

“Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama YHWH, yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.” (Zef 3:1-2,9-13) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23; Bacaan Injil: Mat 21:28-32

Zefanya mempunyai wawasan kenabian bahwa orang-orang berdosa dan sombong akan dihancurkan sementara sebuah bangsa yang dimurnikan, yang terdiri dari mereka yang rendah hati, miskin dan lemah – sisa Israel – akan bertahan di bawah perlindungan-Nya. “Hai kota yang penuh penindasan! Ia tidak mau mendengarkan teguran siapa pun dan tidak mempedulikan kecaman; kepada YHWH ia tidak percaya dan kepada Allahnya ia tidak menghadap” (Zef 3:1-2). Kata-kata ini mengungkapkan dengan baik kondisi universal dari kemanusiaan yang sedang jatuh menuju kehancuran.

Konsili Vatikan II, dalam ‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini’, mengungkapkan hal yang kurang lebih senada: “Manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awalmula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk daripada Sang Pencipta (lihat Rm 1:21-25)” (Gaudium et Spes, 13).

Zephaniah prophetNabi Zefanya belakangan mengungkapkan banyak janji yang telah dibuat oleh Allah bagi mereka yang mencari perlindungan pada-Nya (Zef 3:9-13). Janji restorasi (pemulihan) dipenuhi secara definitif dalam kedatangan Yesus, sang Mesias. Karena banyak orang pada masa kehidupan Zefanya sudah merasa lelah terhadap dunia, realitas dosa, dan efek-efek dosa dalam kehidupan mereka, maka mereka memandang janji-janji YHWH tersebut sebagai sesuatu yang sungguh memikat.

Pada hari inipun kita menemukan janji ini yang mengundang kita masing-masing. Akan tetapi kita harus bertanya kepada diri sendiri: “Mengapa realitas janji ini tidak lagi menjadi bagian dari pengalaman kita?” Alasannya adalah, bahwa Allah telah memberikan kepada kita “kehendak bebas”; dan seringkali kita menggunakan energi manusiawi kita untuk melawan Tuhan Allah – bukan untuk mematuhi perintah-perintah-Nya (kita menyalahgunakan kehendak bebas kita). Kita akan ikut ambil bagian dalam realitas ini sepanjang kita merangkul Yesus, Dia yang adalah pemenuhan nubuat ini. Kita akan ikut ambil bagian sepenuhnya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya kelak.

Kita seharusnya terhibur dalam kenyataan bahwa bahkan sekarang pun kita mengenal buah-buah pertama dari janji Allah melalui karya Roh Kudus dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, baiklah kita berbalik dari kehidupan dosa, merangkul Tuhan, dan memperkenankan Roh Kudus untuk secara mendalam bekerja dalam diri kita. Agar dapat melakukan hal ini, kita harus melakukan suatu pemeriksaan batin secara khusus dan menyiapkan diri untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini.

DOA: Bapa surgawi, ampunilah kami yang suka menyalahgunakan kehendak bebas yang telah Kauanugerahi kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bimbinglah kami pada waktu melakukan pemeriksaan batin secara khusus, sehingga kami pun dalam menyiapkan diri dengan baik untuk menerima  Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang yang berjudul “APAKAH PENDAPATMU TENTANG PERUMPAMAAN INI?” (bacaan tanggal 16-12-14) dalam situs/blog SANG  SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-12-11 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Desember 2014 [HARI MINGGU ADVEN III] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements