Archive for August 31st, 2012

PERLIPAT-GANDAKANLAH TALENTAMU !!!

PERLIPAT-GANDAKANLAH TALENTAMU !!!

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 1 September 2012) 

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-21 

Seringkali kita dinasihati serta didorong untuk memeriksa batin kita sehingga dengan demikian kita dapat diampuni untuk dosa-dosa dalam bentuk pikiran-pikiran, kata-kata, perbuatan-perbuatan dan kelalaian-kelalaian kita, yang telah memisahkan kita dari Allah. Akan tetapi, lewat pemberian ‘perumpamaan talenta’ ini Yesus mengundang kita untuk merenungkan karunia-karunia  (anugerah-anugerah) kita – bukan kesalahan-kesalahan kita – dan Ia bertanya bagaimana kita menggunakan berbagai karunia tersebut. Apakah kita mengembangkan segala karunia yang kita terima dari Allah untuk memuliakan Bapa-Nya itu?

Memang perumpamaan-perumpamaan Yesus – kalau dibaca dengan serius – selalu membuat kita berpikir dan merenungkan maknanya. Misalnya, setelah membaca “perumpamaan talenta”  ini, kita dapat mulai berpikir-pikir apakah kita pernah seperti hamba yang menyembunyikan uang talentanya di dalam tanah? (Mat 25:18). Melalui bacaan-bacaan yang menyangkut ekonomi/keuangan, nasihat/wejangan para guru dan orangtua serta pengalaman hidup,  bukankah kita diajarkan untuk menjamin “keamanan keuangan” kita? Maka kalau dilihat dari pandangan ini, bukankah si hamba dengan satu talenta itu telah memilih alternatif yang paling aman, pendekatan yang paling bebas dari risiko? [istilah keren-nya dalam bahasa teknis ilmu keuangan: most risk-free approach]. Memang hal ini dapat merupakan sebuah keputusan bidang keuangan yangbijaksana, akan tetapi sepanjang berurusan dengan Yesus sebagai murid-murid-Nya, “memendam/menguburkan/menyembunyikan talenta” bukanlah sebuah opsi bagi kita untuk mengambil keputusan.

Merasa susah dan khawatir akan kegagalan atau penolakan tidak akan dipuji oleh Guru kita. Dia memberikan kepada kita sejumlah karunia dan talenta yang ‘pas’ bagi kita masing-masing, ada yang banyak – ada juga yang tidak banyak. Bisa saja kita bergumul dalam hati: “Koq lain-lain ya, ada yang banyak – ada yang sedikit? Kalau gitu Dia tidak adil donk! Katanya, Dia Maha adil? Semua ini adalah urusan Tuhan Allah, yang menciptakan kita, nggak usah dipikirin!” Pada titik ini kita harus ingat, bahwa di mata Allah yang penting bukanlah berupa-rupa macam karunia dan talenta yang kita punya, melainkan bagaimana kita menggunakan segala karunia dan talenta itu. Allah menghendaki agar kita mengidentifikasikan berbagai karunia dan talenta kita yang bersifat unik dan ‘menginvestasikan’ semua itu dalam kerajaan-Nya. Mungkin saja anda diberikan olehnya ‘talenta sebagai pendengar yang baik’. Dapatkah anda ‘melebarkan sayapmu’ dan mengunjungi seseorang yang sedang mengalami kesendirian, yang merasa telah dibuang oleh komunitasnya? Apakah anda memiliki talenta dalam pekerjaan membuat alat-alat dari kayu? Bersediakah anda mempertimbangkan untuk membuat main-mainan yang terbuat dari kayu dengan menggunakan sisa-sisa kayu, khususnya untuk dihadiahkan kepada anak-anak dari keluarga sangat miskin yang sedang dirawat di rumah sakit atau mereka yang tinggal di panti asuhan?

Jikalau kita menginvestasikan talenta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita, maka dividennya pun tidak sedikit. Bahkan kalau kita tidak menggunakan talenta secara langsung untuk membangun kerajaan-Nya, misalnya hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan manusiawi kita, maka hal sedemikian memuliakan Allah juga. Adalah suatu testimoni kuat atas kreavitas Allah, apabila kita sungguh mengembangkan bakat manusiawi kita, maka kita cenderung untuk bertumbuh secara rohani juga. Mengapa? Karena seluruh keberadaan kita – tubuh, jiwa dan roh – saling terjalin dengan erat, sehingga kalau salah satunya diperkuat, maka yang lainnya juga diperkuat. Dengan demikian, janganlah pernah takut untuk menginvestasikan talenta-talenta anda. Allah ingin membuat anda menjadi seorang hamba/pelayan yang “berbuah” dalam segala hal yang anda lakukan! Kita semuanya seharusnya merindukan bahwa pada  suatu hari kelak, Bapa surgawi berkata kepada kita seperti sang Tuan kepada dua orang hambanya yang telah menunjukkan kemauan serta kemampuan untuk melipat-gandakan talenta yang mereka miliki masing-masing: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:23; bdk. 25:21).

DOA: Bapa surgawi, bukalah mataku agar dapat melihat bagaimana aku dapat memuliakan Dikau dengan talenta-talenta yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Aku menghaturkan puji-pujian dan syukur kepada-Mu untuk segala karunia dan talenta  yang telah Engkau percayakan kepadaku untuk dimanfaatkan demi pembangunan kerajaan-Mu lewat perbuatan-perbuatan baik bagi orang-orang yang kujumpai dalam hidup di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan berjudul “BAIK SEKALI PERBUATANMU ITU, HAI HAMBAKU YANG BAIK DAN SETIA” (bacaan tanggal 1-9-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “BERBUAH UNTUK KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 13-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-10 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 23 Agustus 2012

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT KEPADA PARA PEMBACA BLOG “PAX ET BONUM”: SALIB KRISTUS

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,

Kira-kira dua pekan lalu, Saudari dan Saudara kita yang beragama Islam merayakan sebuah pesta “kemenangan” setelah menjalani masa puasa selama bulan Ramadhan, yaitu hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1433 H. Pada hari Jumat penutup bulan Agustus ini saya juga ingin menulis sedikit tentang “kemenangan”, yaitu kemenangan dalam SALIB KRISTUS yang diinspirasikan oleh bacaan pertama (1Kor 1:17-25) Misa Kudus pada hari ini.

Pemberitaan tentang Salib Kristus. Di bukit Kalvari, Yesus tampil sebagai seorang pribadi yang paling goblok dan tolol sepanjang sejarah manusia (lihat Mat 27:41-43). Ia wafat pada kayu salib! Sampai hari ini pun masih ada Saudari-Saudara kita yang beriman lain, yang tidak percaya bahwa yang disalibkan itu adalah Yesus Kristus atau Isa Almasih. “Masa Allah membiarkan nabi-Nya mati konyol seperti itu?” Inilah salah satu argumentasi mereka.

Santo Paulus menulis: “… pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Ini adalah sebuah pesan tentang salib Kristus yang sangat jelas! Dengan bangga sang rasul juga mengatakan, “… aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14). Oleh salib Kristus, umat manusia ditebus dari dosa: “… kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati” (2Kor 5:14). Hukuman telah disingkirkan. Sekarang, semua orang yang berpaling kepada Bapa surgawi melalui iman kepada Kristus dibebaskan dari hukuman dan dimerdekakan dari ikatan-belenggu si jahat  (lihat Kol 2:15).

Salib Kristus malah lebih indah daripada sekadar berfungsi sebagai intrumen yang berurusan dengan dosa-dosa kita. Mengapa? Karena melalui Salib Kristus kita tidak hanya dibebas-merdekakan dari kutukan dosa, melainkan juga diperdamaikan kembali dengan Allah. Penghalang, yang tadinya membuat permusuhan dengan Bapa surgawi, telah disingkirkan (Rm 5:10). Semua orang yang berbalik dari dosa dan dibaptis  ke dalam Kristus menerima Roh  ke dalam hati mereka (Kis 2:38). Roh Kudus ini yang menyatakan kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sangat dikasihi (Rm 8:15-16). Melalui Salib Kristus, kita mempunyai akses kepada takhta Allah (lihat Ef 3:12). Sebagai anak-anak Allah yang terkasih, kita dapat datang kepada-Nya setiap saat dan membuka hati kita untuk menerima hidup-Nya dan kasih-Nya.

Bapa surgawi sangat mengasihi kita! Bahkan – dalam Kristus – Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dan ikut ambil bagian dalam hidup ilahi-Nya (Ef 1:4-5); dan Ia tidak akan membiarkan sesuatu pun, seperti dosa, menghalangi jalan-jalan kita kepada-Nya seturut tujuan-tujuan-Nya.

Salib Kristus adalah sebuah tanda kemenangan umat Kristiani. Yesus dengan sukarela menanggung suatu kematian mengerikan yang merupakan akibat “pengadilan” dagelan dan keputusan yang tidak adil orang-orang yang memiliki otoritas pada masa itu, baik di bidang keagamaan maupun pemerintahan. Namun pada saat meregang nyawa Yesus mengampuni orang-orang yang mendzolomi diri-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”  (Luk 23:34). Di sinilah, di mana setiap konsepsi manusia tentang kuasa dan hikmat-kebijaksanaan gagal, kasih Allah justru memancar ke luar dengan terang-benderang. Salib Kristus memang sesungguhnya merupakan kuasa dan hikmat Allah, karena dalam kelemahannya dan kebodohannya, Salib Kristus telah menjadi instrumen penebusan kita semua…… tanda kemenangan!

Namun demikian, bagi banyak orang, penderitaan dan kematian Yesus pada kayu salib sama sekali bukanlah sebuah “kemenangan”. Mereka berpandangan apakah yang sesungguhnya telah dicapai oleh kematian-Nya, kecuali memberikan suatu contoh optimisme tanpa batas, bahkan naif?  Akan tetapi, mereka yang memiliki hati terbuka bagi Yesus menyadari, bahwa walaupun “pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: ‘Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan’ ” (1Kor 1:18-19).

Makna Salib Kristus. Salib Kristus sesungguhnya merupakan “perpanjangan” dari cara Yesus menjalani seluruh kehidupan-Nya. Yesus memilih untuk hidup sebagai manusia yang lemah, seorang miskin, seorang tukang-kayu dari kota kecil/kampung di Galilea yang karya pelayanan-Nya diwarnai jelas dengan “option for the poor”. Kemiskinan dalam Roh dari Yesus mampu melempar jauh-jauh tirani Iblis. Keindahan ketaatan-Nya menghancurkan  dominion dari dosa dan pemberontakan. Ini adalah misteri agung dari salib. Kematian Yesus membayar lunas harga segala dosa kita. Dalam Yesus, kita memiliki hidup baru.

Pesan terutama dari Salib Kristus adalah, bahwa Yesus Kristus adalah seorang Anak yang taat-setia dan sempurna, sangat pantas menjadi sang Teladan untuk kita ikuti (lihat Yoh 13:15). Setelah ditinggikan pada kayu salib, Ia sekarang dimuliakan dalam surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa (lihat Yoh 8:28). Dan kita, tubuh-Nya di atas bumi, ditebus, diperdamaikan, dan dimuliakan untuk tujuan ini: agar dunia dapat mengetahui dan percaya akan Putera Allah yang mulia.

Catatan penutup. Sekarang, apakah mengherankan jika Santo Paulus mewartakan kebenaran dari “Kristus tersalib” kepada jemaat di Korintus? Paulus tahu bahwa pewartaannya ini, bagi orang-orang yang merangkul pesannya, akan mendatangkan kepenuhan “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:23,24). Jadi, walaupun pewartaan Salib Kristus merupakan suatu “kebodohan” bagi yang mereka yang menolak – jadi tidak mengalami kuat-kuasa salib itu – mereka yang “diselamatkan” mengenal dan mengalami kebenarannya (1Kor 1:18), dengan demikian dapat bersukacita bersama Paulus.

Pada waktu kita (anda dan saya) memandangi dan merenungkan Salib Kristus, apakah kita melihat diri kita sendiri sebagai pribadi yang lemah dan tidak penting? Jangan cepat-cepat kita mendiskualifikasi diri kita! Kita memang bukanlah uskup, imam atau orang-orang yang memahami ilmu Ketuhanan. Kita mungkin saja tidak mempunyai banyak pengikut. Namun, apabila kita menguduskan hati kita bagi Tuhan, maka kita dapat mencapai lebih banyak daripada orang-orang yang paling diberkati, namun tidak mau menyerahkan hati mereka kepada-Nya.

Kita harus senantiasa mengingat, bahwa doa-doa kita dapat membalikkan gelombang dosa dalam rumah tangga kita, lingkungan di mana kita hidup, dan malah gereja kita. Cintakasih kita bagi Yesus dapat memperlembut hati manusia yang mungkin sebelumnya tidak tertarik samasekali kepada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita belajar mengasihi Yesus dan salib-Nya, dan tidak perlulah lagi kita berbicara banyak mengenai apa yang Allah dapat lakukan melalui diri kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita sekarang mendoakan doa Adoramus te: “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”

Cilandak, 31 Agustus 2012

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS